Aktivitas Slamet Naik, Masyarakat Diminta Waspada namun Tetap Tenang

  • 06 Apr 2026 11:22 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Penutupan jalur pendakian Gunung Slamet sejak tanggal 5 April 2026 mendapat tanggapan dari kalangan akademisi. Peningkatan aktivitas vulkanik dinilai masih dalam kategori wajar, namun masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.

Ahli geologi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Yogi Adi Prasetya, menjelaskan bahwa fenomena peningkatan suhu kawah dan kemunculan asap putih merupakan hal yang lazim terjadi pada gunung api aktif. Selama belum muncul tanda-tanda erupsi besar seperti lontaran lava atau perubahan warna asap yang signifikan, kondisi tersebut masih dalam tahap pengawasan.

Meski demikian, Yogi menegaskan bahwa potensi bahaya tetap ada, terutama jika terjadi interaksi antara magma dengan air tanah. Kondisi tersebut dapat memicu erupsi freatik atau freatomagmatik yang bersifat tiba-tiba dan sulit diprediksi.

“Jika ada indikasi peningkatan suhu di bawah permukaan yang berdekatan dengan air tanah, sebaiknya masyarakat tidak mendekat ke kawah karena berpotensi terjadi letusan mendadak,” ujarnya.

Ia juga menilai status Gunung Slamet yang berada pada Level II atau waspada dalam waktu cukup lama menunjukkan adanya aktivitas magma di bawah permukaan yang masih berlangsung. Kondisi ini tercermin dari data pemantauan alat-alat vulkanologi yang merekam peningkatan aktivitas secara kontinu.

Menurutnya, durasi status waspada yang panjang bukan hal aneh karena setiap gunung memiliki karakteristik berbeda. Aktivitas tersebut bisa dipengaruhi oleh suplai magma yang terus terjadi di dalam perut bumi.

Yogi menambahkan, secara historis Gunung Slamet tidak dikenal memiliki letusan besar. Berdasarkan skala Volcanic Explosivity Index (VEI), erupsi Gunung Slamet umumnya berada pada level rendah, yakni antara VEI 1 hingga 2.

Meski relatif tidak eksplosif, ia tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan potensi bahaya. Kepatuhan terhadap rekomendasi resmi dari pihak berwenang menjadi kunci dalam meminimalkan risiko.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi dari Badan Geologi, BPBD, maupun petugas pos pengamatan gunung api.

Dengan kondisi saat ini, penutupan jalur pendakian dinilai sebagai langkah tepat untuk menghindari potensi risiko bagi pendaki. Masyarakat diharapkan dapat memahami situasi ini sebagai upaya mitigasi demi keselamatan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....