DKKB: Tadarus Sastra Tanamkan Benih Literasi di Banyumas

  • 15 Mar 2026 22:14 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Upaya menumbuhkan kembali budaya membaca dan literasi di Banyumas terus digelorakan berbagai komunitas. Salah satunya melalui kegiatan Tadarus Sastra yang digelar Komunitas Serayu Penawara bersama Sanggar Seni Samudra. Kegiatan yang memadukan sastra, budaya, dan pendidikan ini mendapat apresiasi dari Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB).

Wakil Ketua Bidang Eksternal DKKB, Bambang Widodo, menyampaikan apresiasinya kepada para pegiat sastra yang terus berupaya menghidupkan literasi di Banyumas. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi “pupuk” penting untuk menumbuhkan kembali minat baca masyarakat.

“Alhamdulillah kita masih diberi kesehatan sehingga bisa berkumpul dalam kegiatan yang luar biasa ini. Saya mengapresiasi Komunitas Serayu Penawara, Sanggar Seni Samudra, dan para penggerak sastra yang terus menghidupkan dunia literasi di Banyumas,” ujarnya dalam keterangan yang diterima RRI, Sabtu (14/3/2026).

Kegiatan Tadarus Sastra tersebut diisi dengan berbagai agenda, seperti pembacaan puisi, diskusi literasi, hingga pertunjukan seni. Dodit—sapaan akrab Bambang Widodo—menilai gerakan literasi semacam ini sangat penting, mengingat minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.

“Kalau ditanya apakah budaya membaca di Banyumas sudah subur, tentu jawabannya belum sepenuhnya. Karena itu kegiatan seperti ini sangat penting sebagai upaya menanam benih literasi agar masyarakat kembali gemar membaca,” katanya.

Ia juga menyoroti tantangan literasi di era digital, terutama meningkatnya penggunaan gawai oleh anak-anak. Menurutnya, perlu ada pengaturan yang lebih bijak agar generasi muda tidak sepenuhnya tenggelam dalam penggunaan ponsel pintar.

“Di beberapa negara bahkan ada aturan usia anak yang boleh menggunakan ponsel. Ini menjadi perhatian kita bersama agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk membaca, belajar, dan mengenal budaya,” tuturnya.

Dodit menambahkan, perpustakaan juga perlu kembali dihidupkan sebagai ruang belajar yang menyenangkan bagi generasi muda. Dengan dukungan komunitas, pemerintah, dan para pegiat literasi, ia berharap budaya membaca di Banyumas dapat terus tumbuh.

Sementara itu, Sekretaris DKKB, Djarot C. Setyoko, dalam kesempatan tersebut menyampaikan refleksi spiritual tentang puisi. Ia mengatakan puisi tidak selalu harus menyebut nama Tuhan secara langsung untuk menghadirkan nilai-nilai ketuhanan.

“Tidak secara kata-kata menyebut nama Tuhan, sebenarnya puisi yang kita sublimasikan dari kesadaran kita menjadi rasa keindahan, menjadi rasa estetik,” ujarnya.

Menurutnya, puisi merupakan sublimasi dari pengalaman batin manusia yang diungkapkan melalui bahasa yang indah. Dari pergulatan batin itulah lahir karya sastra yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung kedalaman makna spiritual.

Dalam kesempatan itu, Djarot juga membacakan dua larik dari puisinya berjudul “Magrib di Masjid Keraton”, yang menggambarkan pengalaman batin saat manusia mencoba menemukan Tuhan.

“Ketika saya mencoba mencari Tuhan dengan akal saya, tidak saya temukan.

Ketika saya menutup akal dan mendengarkan batin, tiba-tiba Gusti Allah hadir begitu saja di dalam diri saya,” ucapnya.

Menurutnya, sastra tidak hanya menjadi karya estetika, tetapi juga ruang kontemplasi yang menjembatani rasio dan rasa. Melalui puisi dan karya sastra, manusia dapat menemukan refleksi batin sekaligus memahami makna kehidupan secara lebih mendalam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....