Sisa Makananmu: Luka Bagi Bumi, Ujian Bagi Puasamu

  • 09 Mar 2026 22:02 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Kesadaran untuk tidak menyisakan makanan menjadi salah satu pesan penting dalam dialog Cafe Ramadan Pro 2 RRI Purwokerto, Minggu (8/3/2026). Dalam perbincangan tersebut, dosen FUAD UIN Saizu Purwokerto, Rahman L Alfian, S.Pd., M.Ant., mengingatkan bahwa kebiasaan membeli makanan berlebihan saat berbuka puasa sering kali berujung pada sisa makanan yang sebenarnya bisa dihindari.

Menurut Rahman Alvian, fenomena “lapar mata” saat berburu takjil merupakan hal yang wajar secara naluriah bagi manusia. Ia menjelaskan bahwa secara antropologis manusia memiliki kecenderungan mengumpulkan makanan sebanyak mungkin sebagai bentuk mekanisme bertahan hidup sejak zaman dahulu.

“Sebenarnya lapar mata itu adalah respon alamiah manusia yang sejak dulu memang mencari makanan sebanyak-banyaknya untuk mengantisipasi masa depan,” katanya.

Namun di era modern, kondisi tersebut seharusnya dapat dikendalikan karena ketersediaan makanan lebih mudah diakses. Ia menilai, kebiasaan membeli makanan secara berlebihan justru dapat menimbulkan masalah baru, salah satunya meningkatnya sampah makanan.

“Faktanya di TPA, sekitar 40 persen sampah adalah sisa makanan organik. Jadi tanpa kita sadari, sisa makanan itu juga melukai bumi,” tambahnya.

Rahman Alvian juga menekankan bahwa dalam Islam, sikap berlebihan dalam makan sudah diingatkan dalam Al-Qur’an. Ia mengutip pesan dalam Surah Al-A’raf ayat 31 yang mengingatkan agar manusia makan dan minum, tetapi tidak berlebihan.

“Sepiring nasi itu bukan sekadar makanan. Di dalamnya ada kerja keras petani, ada air, matahari, dan proses panjang alam semesta hingga akhirnya sampai ke meja kita,” katanya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menerapkan mindful eating, yakni makan dengan penuh kesadaran. Dengan memahami proses panjang di balik makanan, seseorang diharapkan lebih menghargai makanan dan tidak menyisakannya.

“Jangan sampai puasa kita hanya mendapatkan laparnya saja. Justru ketika makanan sudah ada di depan kita, di situlah ujian sebenarnya, apakah kita bisa mengendalikan diri atau tidak,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....