Kaligrafi Karya Ustadz Abdul Karim Tembus Mancanegara

  • 05 Mar 2026 15:16 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Brebes: Jika melihat mahakarya kaligrafi bernilai jutaan rupiah milik Ustadz Abdul Karim hari ini, sulit membayangkan bahwa semuanya berawal dari kalender bekas dan pensil warna murahan. Tumbuh pada era 1990-an dalam keluarga petani sederhana, ia harus berjuang keras bahkan untuk sekadar mendapatkan uang saku sekolah.

Kecintaannya pada seni kaligrafi mulai tumbuh sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Ia mulai meniru gaya tulisan sang guru dan mengikuti lomba porseni tingkat kecamatan hingga kabupaten pada pertengahan 1990-an.

“Dari kegagalan itu saya berpikir bahwa kegagalan adalah awal kesuksesan. Akhirnya saya dalami terus kaligrafi,” ujarnya mengenang masa kecilnya.

Saat ini, Ustadz Abdul Karim aktif mengajar di Pondok Pesantren Modern Darunnajat. Di pesantren tersebut, ia semakin memperdalam kaligrafi.

Namun, perjalanan itu tidak mudah. Tantangan terberat justru datang dari dalam dirinya sendiri. Ia sempat mempertanyakan manfaat belajar kaligrafi untuk masa depan, terlebih ketika kerap diminta membuat karya tanpa bayaran.

“Saya bertanya dalam hati, belajar kaligrafi ini untuk apa. Tapi saya lawan rasa itu. Ternyata kuncinya niat, ketekunan, dan keuletan,” katanya.

Keterbatasan ekonomi membuatnya harus kreatif. Ia memanfaatkan bagian belakang kalender bekas sebagai media menggambar dan menggunakan alat tulis seadanya. Meski sederhana, proses panjang itu menjadi fondasi keterampilannya hingga kini.

Perjuangannya berbuah manis. Karya kaligrafinya kini telah menembus mancanegara dan terpajang di Masjid At-Taqwa, California, Amerika Serikat. Beberapa karyanya juga dikoleksi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Tasikmalaya dan sejumlah masjid di Banyumas, Purbalingga, hingga Tegal.

Selain kaligrafi di atas kanvas, ia juga dikenal sebagai muralis. Ratusan tembok sekolah, mulai dari wilayah Brebes hingga Bandung, Jawa Barat, telah dipercantik oleh sentuhan seninya.

Ia juga aktif di dunia maya. Melalui akun media sosialnya di Instagram: @Abdulkarim1432, Facebook: Abdul Karim (Art Gallery), Tik tok: El Frengky, dan Youtube: Kariem Art Gallery, Ustadz Abdul Karim menunjukkan mahakarya dari goresan tangannya.

Dalam hal harga, ia menjelaskan bahwa karya di atas kanvas pernah dihargai hingga Rp6 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Sementara untuk kaligrafi masjid, perhitungan biasanya menggunakan tarif per meter lari, menyesuaikan detail ornamen dan kompleksitas desain.

Bagi Ustadz Abdul Karim, kaligrafi bukan sekadar seni, melainkan bentuk kecintaannya pada Al-Qur’an. Ia menyebut kaligrafer sebagai pihak yang mempelajari anatomi huruf-huruf suci, sehingga menjadi bagian penting dalam menjaga keindahan wahyu.

Ia pun berpesan kepada para santri dan generasi muda agar tidak ragu menekuni bidang apa pun yang diminati. “Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Prosesnya memang panjang, tapi hasilnya akan mengikuti,” tuturnya.

Dari kalender bekas hingga dinding masjid di Amerika, kisah Ustadz Abdul Karim menjadi bukti bahwa ketekunan dan keikhlasan mampu menembus batas. Seni kaligrafi telah mengubah hidupnya, sekaligus menjadi jalan dakwah yang terus ia rawat hingga hari ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....