Ratusan Warga Desa Petambakan Sholat Gerhana Bulan
- 04 Mar 2026 15:17 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banjarnegara: Gejala alam gerhana bulan di masa lalu pernah dimaknai sebagai pertanda sesuatu akan terjadi. Dalam kitab Sěrat Cěnthini misalnya. Pada jilid II, pupuh Sinom: 31, disebutkan:
“… wulan Ramêlan tan bêcik | tansah kangelan kang manah | ing lair tumêkèng batin | manggung kinirangan ugi | marang wong kang gêthing iku | akèh wong ingkang ewa | anênandur nora dadi | prayogane padha sira sigahana ||”.
Artinya, “… (gerhana bulan) saat bulan Ramadhan adalah pertanda tidak baik, hati dan pikiran selalu cemas dan khawatir, lahir hingga batin, selalu merasa kekurangan, untuk orang yang selalu dengki, banyak orang yang menggila, bertani tidak akan panen, sebaiknya engkau semua berhati-hati”.
Sementara dari kitab Primbon Betaljemur Adammakna, juga menjelaskan hal serupa.
“Yen ana grahana srěngenge utawa rěmbulan ing sasi Pasa, ngalamat wong padha bungah-bungah, nanging banjur ana pagěblug.”
Artinya, “Jika fenomena gerhana matahari atau bulan terjadi di bulan Ramadhan, itu pertanda orang-orang akan bersuka cita, akan tetapi selanjutnya akan datang wabah atau kekacauan.”
Di masa lalu, kepercayaan semacam itu masih diyakini sebagian masyarakat Jawa khususnya.
Namun seiring kemajuan peradaban dan peningkatan pemahaman keagamaan Islam, masyarakat mulai tercerahkan dalam menyikapi gerhana bulan secara tepat. Seperti yang dilakukan oleh ratusan warga Desa Petambakan Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara, Selasa 3 Maret 2026, sejak sore mereka telah berkumpul di dalam masjid, melaksanakan buka puasa bersama dan dilanjutkan dengan sholat dan khutbah gerhana bulan.
Khotib sholat gerhana "blood moon" tersebut adalah Sekretaris Desa Petambakan Khoiruman.
Dalam khutbahnya, Khoiruman menyitir Quran surat Fushilat 37, bahwa gerhana bukan untuk ditakuti secara mistis atau tanda sesuatu peristiwa atau kematian, namun harus dimaknai sebagai tanda kebesaran Allah.
"Juga dalam surat Ali Imran 190, menegaskan kepada kita untuk berfikir terutama tentang keteraturan kosmik. Andai bulan keluar dari orbitnya maka akan terjadi kekacauan. Jika manusia keluar dari aturan Allah, maka akan terjadi kerusakan moral dan sosial. Gerhana juga menyadarkan manusia bahwa kita tidak mampu mencegah kekuasaan Allah, sehingga tidak sepatutnya kita memiliki kesombongan sedikitpun. Terakhir, menyadarkan kita bahwa gerhana merupakan sesuatu yang kecil dibandingkan dengan peristiwa kiamat," jelas Khoiruman.
Selama gerhana, Khoiruman juga mengajak agar masyarakat banyak berdzikir dan beristighfar agar mendapatkan banyak kebaikan setelah melakukan sholat dua rokaat dengan dua kali rukuk setiap rokaatnya tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....