Cap Go Meh dan Buka Puasa Bersama Satukan Masyarakat Banyumas

  • 03 Mar 2026 22:46 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto menggelar perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili pada Selasa (3/3/2026). Perayaan yang menjadi puncak peringatan Tahun Baru Imlek tersebut digelar berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dan sarat nilai toleransi.

Sejak sore hari, halaman kelenteng sudah dipadati masyarakat. Mereka menyaksikan atraksi liong dan barongsai. Beberapa di antaranya juga mengikuti kirab Toa Pek Kong alias patung dewa, mengelilingi jalan-jalan sekitar kelenteng.

Masyarakat yang hadir tidak hanya dari kalangan umat Tionghoa, tetapi juga warga lintas agama, termasuk Islam, dari berbagai daerah di Banyumas. Umat Islam pun memanfaatkan momen ini untuk ngabuburit alias menunggu waktu berbuka puasa.

Ya, puncak perayaan Imlek tahun ini memang terasa spesial karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Cap Go Meh yang biasanya digelar pada malam hari, kali ini dimajukan ke sore hari sebagai bentuk toleransi, sekaligus upaya menghadirkan suasana kebersamaan di tengah Ramadan.

Penyuluh agama Konghucu Kemenag Banyumas yang juga pengurus Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto Trisno Rahayu menyampaikan, rangkaian perayaan Cap Go Meh dimulai dan selesai lebih awal agar umat Muslim dapat melaksanakan salat Isya dan Tarawih dengan lebih nyaman.

“Biasanya Cap Go Meh dilaksakanan selepas Isya, tetapi karena saudara kami yang Muslim sedang melaksanakan ibadah puasa, rangkaian kegiatan kami selesaikan sebelum Isya dan Tarawih supaya mereka bisa lebih nyaman beribadah,” ucap Trisno.

Selain itu, pihak kelenteng juga menyediakan sajian khas, yaitu lontong Cap Go Meh, yang dibagikan kepada masyarakat, termasuk warga Muslim, sebagai hidangan berbuka puasa.

“Lontong Cap Go Meh merupakan akulturasi kuliner dari Tionghoa dan Jawa. Kami menyediakan kurang lebih 700 sampai 1.000 mangkok untuk masyarakat,” tutur Trisno.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kantor Kemenag Banyumas Ibnu Asaddudin menilai bahwa perayaan Cap Go Meh yang berbarengan dengan Ramadan ini menjadi contoh nyata kerukunan dan moderasi beragama di Banyumas.

Ia menyampaikan, apabila setiap pemeluk agama memahami dan mengamalkan ajaran agamanya dengan baik, maka tidak akan ada ujaran maupun sikap yang berpotensi menimbulkan gesekan atau konflik.

“Ini menggambarkan luar biasa terbukanya kita, sehingga Banyumas guyub, rukun, aman, dan tenteram,” ujar Ibnu.

Senada disampaikan oleh Camat Purwokerto Timur Oka Yudhistira Pranayudha. Ia Ia menyampaikan, Cap Go Meh yang digelar 15 hari setelah Imlek tersebut memperlihatkan kuatnya akulturasi budaya di Banyumas.

“Tadi atraksi barongsai dan kirab Toa Pek Kong tidak hanya diikuti warga Tionghoa, tetapi juga ada masyarakat Purwokerto asli yang turut menggotong dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut,” ucap Oka.

Selain nilai budaya, ia menilai perayaan ini juga sarat makna keagamaan. Umat Konghucu merayakan Cap Go Meh, sementara umat Muslim turut diundang karena rangkaian kegiatan disisipi dengan acara buka puasa bersama.

“Di sini ada toleransi, ada kerukunan, ada akulturasi budaya. Semua itu yang membuat Banyumas tetap adem, aman, dan tidak ada konflik antarsuku, golongan, maupun agama. Di Banyumas semuanya menyatu,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang warga, Irma, mengaku senang dapat menyaksikan langsung perayaan Cap Go Meh yang berlangsung bertepatan dengan Ramadan. Ia menilai, kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga karena bisa menikmati atraksi budaya sekaligus berbuka puasa bersama dalam suasana penuh kebersamaan.

“Ini pertama kali saya liat barongsai di kelenteng, sekaligus kami bisa berbuka puasa bersama di sini. Rasanya adem dan penuh kebersamaan,” kata Irma. (FR).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....