Pelaku Budaya Banjarnegara Ikuti Bimtek Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan
- 25 Feb 2026 14:26 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banjarnegara: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X membuka program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) tahun 2026. Program itu berhak diikuti oleh masyarakat, terutama pelaku budaya, baik secara perseorangan maupun lembaga yang ada di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Proposal FPK harus dikirimkan paling lambat 25 Maret 2026, secara daring dan berkas aslinya dikirimkan melalui pos.
Mempersiapkan hal tersebut, Bidang Kebudayaan Dinparbud Banjarnegara menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan di Aula Dinparbud Banjarnegara, Rabu 25 Februari 2026.
Kegiatan dibuka oleh Kabid Kebudayaan Dinparbud Banjarnegara Kuat Herry Isnanto. Dalam sambutannya Kuat mengungkapkan peluang FPK sangat besar diakses oleh para pelaku budaya, untuk melaksanakan kegiatan kebudayaan.
"Di tengah minimnya anggaran daerah yang saat ini ada, fasilitasi ini bisa menjadi solusi bagi para pelaku budaya untuk terus menghidupkan dan mengembangkan budaya yang mereka geluti. Dengan Bimtek ini kami harapkan banyak proposal dikirimkan dan lolos," harap Kuat.
Dengan banyaknya proposal yang lolos diharapkan juga oleh Kuat, mampu meningkatkan aktivitas budaya yang berimbas pada perbaikan Indeks Pemajuan Kebudayaan.
Tak hanya mempersiapkan proposal FPK, para peserta juga mendapatkan materi tentang fasilitasi Dana Indonesiana dari narasumber lokal Banjarnegara. Narasumber kegiatan itu adalah Heni Purwono dari Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) dan Aziz Arifianto dari Yayasan Prima Surya Multimedia Sinema (Prisma).
Aziz dalam paparannya mengungkapkan kelemahan para pelaku budaya sebagian besar adalah lemah tentang administrasi dan malas membaca petunjuk teknis proposal.
"Banyak pelaku budaya di Banjarnegara, khususnya di bidang seni, mereka sudah malang melintang aktivitasnya namun tidak terdokumentasi dengan baik, juga administrasinya lemah. Ini kesempatan untuk membenahi diri, agar lembaga kebudayaan juga dikelola secara professional," ujar Aziz yang lembaganya memperoleh Dana Indonesiana beberapa tahun lalu.
Untuk itu, tambah Aziz, lembaga-lembaga kebudayaan perlu seorang admin yang mengelola administrasi secara tertib, termasuk memanfaatkan platform media sosial secara efektif.
Salah satu peserta dari pegiat seni pantomim Suwaryo mengaku kegiatan ini sangat menarik karena membuka cakrawalanya tentang ragam fasilitasi yang dapat diakses oleh para pelaku budaya.
"Seni pantomim masih jarang yang menggeluti, sehingga nyaris tidak mendapatkan perhatian. Padahal di sekolah setiap tahun ada lomba pantomim sampai tingkat nasional. Banjarnegara juga pernah siswanya menang. Saya akan mencoba membuat proposal untuk pelatihan pantomim, agar seni ini semakin membumi dan banyak diminati oleh masyarakat," ujar Suwaryo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....