Tradisi Kue Keranjang dan Lampion dalam Perayaan Imlek
- 18 Feb 2026 14:15 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas : Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi salah satu momen tahunan yang dinantikan bagi keturunan Tionghoa yang merayakannya. Perayaan ini diwarnai oleh tradisi-tradisi budaya Tiongkok, seperti kue keranjang dan lampion merah.
Awal mula perayaan Tahun Baru Imlek berasal dari tradisi perayaan masyarakat Tiongkok dalam menyambut datangnya musim semi tiba. Tibanya momen musim semi menjadi sebuah pengharapan setelah penantian yang luar biasa untuk dapat mulai bercocok tanam bagi kehidupan masyarakat Tiongkok
“Apabila satu kali bercocok tanam pada musim semi gagal, maka mereka akan mengalami paceklik selama satu tahun ke depan. Sehingga perayaan ini memang ribuan tahun menjadi hal yang monumental sekali, hal yang perlu disambut menjadi peristiwa besar bagi masyarakat Tiongkok. Demikian juga dengan para keturunan-keturunan orang-orang Tiongkok yang tersebar di seluruh dunia,” jelas Sobita, Humas Klenteng Boen Tek Bio Banyumas saat diwawancarai RRI pada Jumat, (13/2/2026).
Dalam tradisi budaya menyambut perayaan Imlek, terdapat makanan-makanan khas yang selalu dihidangkan untuk dimakan bersama-sama. Makanan-makanan tersebut diantara lain seperti kacang-kacangan dan manisan kue keranjang.
Kue keranjang sendiri merupakan manisan yang terbuat dari tepung ketan dan gula merah. Lebih dari sekadar manisan, kue keranjang sarat akan simbol harapan dan persaudaraan bagi orang-orang Tiongkok.
“Kue keranjang sebenarnya adalah simbol dari kerekatan atau tali silaturahmi, tali persaudaraan dari anak cucu dalam satu keluarga besar. Jadi dengan adanya kue keranjang, kita berharap kehidupan kita di tahun yang akan datang akan semakin erat, kemudian kehidupan yang kita jalani akan berbuah hal-hal yang manis sesuai dengan rasa dari kue keranjang tersebut,” kata Sobita.
Dalam tradisi Tiongkok, sajian makanan manis penuh akan simbol rezeki dan kehidupan yang lebih baik. Selain kacang-kacangan dan manisan, adapula mi panjang umur yang menjadi simbol harapan atas keberkahan dan umur panjang.
Di samping makanan khas, ornamen khas Imlek juga memiliki makna mendalam dalam perayaan Imlek. Bagi orang Tionghoa, tradisi menggantungkan dan menyalakan lampion menjadi sebuah simbol harapan agar hidup dapat diterangi cahaya Ilahi.
“Kita akan menyalakan lentera atau lampion. Di sana kita menggantungkan harapan atau menjadi simbol bahwa kehidupan kita akan selalu mendapatkan cahaya terang dari Ilahi sepanjang hidup kita. Jadi ini semua adalah tradisi budaya yang memang sudah tertanam begitu dalamnya kepada anak cucu dari generasi ke generasi masyarakat Tionghoa,” ujar Sobita.
Perayaan Tahun Baru Imlek tahun 2577 Kongzili akan jatuh pada tanggal 17 Februari 2026. Segala rangkaian persiapan telah mulai dilakukan sejumlah Klenteng di Banyumas agar perayaan budaya ini dapat berjalan dengan khidmat dan lancar. (DSY/Aisha)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....