Duta Anti Narkoba: Membawa Perubahan bagi Masyarakat
- 05 Feb 2026 07:57 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Peredaran narkoba dinilai semakin dekat dengan kehidupan remaja, bahkan menjangkau usia sekolah dasar. Kondisi ini menjadi perhatian serius para duta anti narkoba di Kabupaten Tegal yang aktif melakukan edukasi di lingkungan masyarakat dan pendidikan.
Dalam Special Talk Spada Pro 2 hadir Duta Anti Narkoba Tegal 2024, Akbar Abdilah Nur, menilai bahwa ancaman narkoba saat ini tidak lagi bersifat jauh atau tersembunyi. Berdasarkan pengalamannya mengajar di lingkungan desa, ia menemukan kasus anak yang hampir terjerat narkoba akibat akses yang begitu mudah.
“Di era sekarang sangat dekat. Di lingkungan tempat saya mengajar, cukup banyak warung yang menjual pil ekstasi, biasa disebut warung kuning. Targetnya bukan hanya anak SMA, tapi juga SMP bahkan SD,” ujarnya.
Sementara itu, Duta Anti Narkoba Tegal 2025, Alfah Risma Ul Sifa, menyoroti pola pikir remaja yang menganggap mencoba narkoba sebagai hal sepele. Menurutnya, sikap coba-coba justru menjadi awal dari dampak berantai yang berbahaya. Hal ini disebut sebagai domino effect.
“Awalnya balok pertama hanya coba-coba. Lalu balok kedua kesehatan saraf, balok ketiga ekonomi, dan balok masa depan ikut tumbang. Satu-satunya cara agar domino itu tidak jatuh adalah tidak menyentuh balok pertama sama sekali,” kata Alfah.
Akbar juga membagikan pengalaman nyata dampak narkoba pada peserta didiknya. Ia menyebut pernah menangani siswa berprestasi yang terjerumus pil ekstasi akibat tekanan pergaulan.
“Anaknya pintar dan ranking, tapi pendiam. Awalnya dipaksa teman, lalu diberi gratis. Lama-lama kecanduan sampai mengambil uang orang tua. Dia jadi cemas dan kehilangan motivasi hidup,” tuturnya.
Dalam menyampaikan edukasi kepada remaja, Alfah menekankan pentingnya pendekatan yang tidak menggurui. Menurutnya, remaja cenderung menolak aturan kaku dan justru semakin penasaran jika dilarang secara keras. “Kuncinya rendahkan ego dan jadi pendengar dulu. Masuk ke frekuensi mereka, dengarkan apa yang sedang tren, baru pelan-pelan sisipkan edukasi,” jelasnya.
Terkait cara menolak ajakan narkoba, Akbar menyarankan penggunaan bahasa yang santai namun tegas. Ia menilai penolakan tidak perlu disertai penghakiman. “Tolak secara halus, tetap jaga batasan dan sampaikan prinsip kita. Jangan takut bertanya ke orang yang tepat seperti BNN, dan manfaatkan media sosial dari sumber yang bisa dipercaya,” ujarnya.
Sebagai penutup, Akbar mengingatkan bahwa mencoba narkoba sekali saja dapat menjadi awal kehancuran. “Narkoba itu senangnya sesaat, nyiksanya sampai akhirat. Anak muda harus punya benteng diri dan aktif di kegiatan positif,” katanya.
Alfah juga berpesan agar generasi muda berani menjadi agen anti narkoba, dimulai dari diri sendiri. “Berani bersikap say no dan menjadi pemimpin bagi diri sendiri adalah langkah awal mencegah narkoba,” ujarnya. (Dinda)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....