Kisah Ibu Sukar Pertahankan Warung Rames Bawah Jembatan
- 04 Feb 2026 15:36 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Sukar masih setia menjajakan nasi rames di emperan bawah jembatan dekat stasiun Purwokerto. Pada Rabu (4/2/2026), ia menjelaskan bahwa usaha bernama Warung Sorjem ini merupakan warisan turun-temurun dari ibunya sejak tahun 1955.
Sukar sendiri tercatat sudah mengelola warung tersebut secara mandiri selama 27 tahun terakhir. Meski hanya menempati lahan di bawah jembatan tingkat, warung ini menjadi tumpuan hidup keluarga dan dikenal luas oleh masyarakat sekitar.
"Kalau Ibu tahun '55 dulu, jadi aku nerusin punya Ibu," kata Sukar
Menu yang ditawarkan berupa masakan rumahan sederhana seperti sayur lodeh, oseng-oseng, hingga mendoan hangat. Satu porsi nasi rames lengkap dengan telur dijual seharga Rp10.000 untuk memastikan pelanggan tetap kenyang.
Operasional warung dibagi menjadi tiga jadwal yang melibatkan adik dan tetangga sebagai pengelola secara bergantian. Sukar memulai pelayanan sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, sementara jadwal sore dilanjutkan oleh pengelola lainnya.
"Pokoknya kenyang lah, nasi rames sepuluh ribu pakai telor, sayur - sayur jawa," tuturnya
Pelanggan setianya berasal dari berbagai profesi, mulai dari mahasiswa yang mencari harga murah hingga aparat keamanan. Sukar seringkali memberikan kelonggaran harga bagi pembeli yang datang dengan kondisi keuangan terbatas, bahkan untuk harga Rp5.000 saja.
Uniknya, warung ini tidak memiliki identitas digital dan pemiliknya pun mengaku tidak menggunakan ponsel pintar dalam keseharian. Meski begitu, banyak pelanggan muda yang datang untuk berfoto dan membagikan pengalaman mereka di media sosial.
"Bu, foto ya Bu'. Monggo foto, tapi makanannya saja ya, aku gak mau, aku udah tua," ungkap Sukar.
Selama puluhan tahun berjualan, ia mengaku hampir tidak pernah mendapatkan tantangan atau komplain dari pemerintah maupun masyarakat setempat. Justru para pelanggan akan mencarinya jika warung tersebut tutup karena mereka sudah bergantung pada ketersediaan pangan murah di sana.
Sukar merasa bersyukur karena usaha sederhana ini mampu melunasi kebutuhan hidup dan membantu banyak orang yang kelaparan. Ia bertekad untuk terus berjualan selama fisiknya masih mampu melayani para pelanggan setianya di bawah jembatan.
"Kalau gak jualan aku dimarahi, 'jualan gk Bu? Aku udah lapar, mau di Sorjem kenapa gak jualan?'," ungkapnya.
Keberadaan Warung Sorjem kini tetap bertahan sebagai bagian dari sejarah kuliner di kawasan stasiun meski zaman telah berubah. Pemilik berharap agar usahanya dapat terus berjalan dengan aman tanpa ada gangguan di masa mendatang. (DSY/Muhamad Saepul Saputra)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....