Kecamatan Kemranjen Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Potensi Bencana
- 04 Feb 2026 09:44 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID,Banyumas – Kecamatan Kemranjen terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana pada musim penghujan. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu kecamatan rawan bencana di Kabupaten Banyumas, baik banjir maupun longsor, akibat kondisi geografis dan hidrometeorologi wilayahnya.
Camat Kemranjen, Ika Suprihatin, mengatakan potensi bencana di Kecamatan Kemranjen terbagi berdasarkan karakter wilayah. Untuk daerah bagian utara seperti Desa Karanggintung, Karangsalam, Petarangan, dan Kedungpring yang memiliki kontur berbukit, potensi bencana didominasi tanah longsor dan tanah bergerak.
“Di Petarangan pernah terjadi tanah bergerak pada 1 November 2025, kemudian disusul longsor di Desa Kedungpring pada 16 November 2025. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” ujar Ika saat diwawancara RRI pada Selasa (3/2/206).
Sementara itu, wilayah selatan Kecamatan Kemranjen seperti Desa Sirau, Grujugan, Sidamulya, sebagian Kebarongan, dan Karangjati memiliki potensi banjir. Kondisi ini dipengaruhi oleh aliran sungai, di antaranya Kali Tipar dan Kali Wates, yang kerap meluap saat intensitas hujan tinggi.
“Kalau hujan deras, desa-desa seperti Sidamulya, Grujugan, dan Sirau hampir selalu terdampak. Tahun 2025 kemarin sempat terjadi banjir di Desa Grujugan, namun tidak berlangsung lama,” jelasnya.
Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan, Kecamatan Kemranjen telah membentuk Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) sejak Mei 2024. Struktur ini melibatkan unsur Forkopimcam, pemerintah desa, BPD, organisasi masyarakat, hingga berbagai pemangku kepentingan di wilayah kecamatan.
Selain itu, di tingkat desa juga dibentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Pelatihan dan pembentukan FPRB terakhir dilaksanakan di Desa Grujugan dan Karanggati dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Mitigasi bencana kami lakukan melalui pembentukan Destana dan FPRB, penganggaran kebencanaan di APBD dan Dana Desa, sosialisasi mitigasi, serta penyusunan peta rawan bencana di masing-masing desa,” kata Ika.
Upaya antisipasi juga dilakukan melalui pembangunan fisik, seperti perbaikan drainase di desa serta kerja sama dengan Puskesmas Kemranjen 1 dan 2 untuk mendorong pembuatan lubang biopori di setiap rumah guna mengurangi genangan air.
Ika menambahkan, peran masyarakat dan perangkat desa sangat penting dalam pencegahan dan penanganan bencana. Pemerintah desa, FPRB, dan Destana aktif berkoordinasi melalui grup WhatsApp kebencanaan untuk memastikan laporan cepat saat terjadi bencana.
“Laporan dari desa langsung kami teruskan ke pemerintah kabupaten, khususnya BPBD, sehingga penanganan bisa cepat,” ujarnya.
Ia pun mengimbau seluruh masyarakat Kecamatan Kemranjen untuk tetap waspada menghadapi perubahan cuaca, tidak membuang sampah sembarangan, serta menjaga lingkungan secara bersama-sama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....