LDC Dorong Siswa Berani Berbicara Bahasa Inggris

  • 30 Jan 2026 09:46 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Kemampuan berbahasa Inggris dinilai semakin mendesak untuk dikuasai oleh siswa di berbagai jenjang pendidikan. Hal ini disampaikan Kepala Bagian Program Pengayaan Bahasa Inggris LDC (Language Development Center), Suhandini, M.Pd, Jumat (30/1/2026).

Menurut Suhandini, di era global saat ini hampir seluruh aspek kehidupan bersentuhan dengan bahasa Inggris. Mulai dari pendidikan, teknologi, hingga aktivitas sehari-hari.

Ia menegaskan, kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki sejak dini akan menjadi bekal penting bagi siswa di masa depan.

“Sekarang semuanya menggunakan bahasa Inggris, kalau tidak punya kosakata dasar saja, itu sangat merugikan. Anak-anak sekarang bahkan seharusnya sudah mulai dari kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.

Namun demikian, Suhandini mengakui masih banyak siswa yang mengalami kendala psikologis saat harus berbicara bahasa Inggris. Rasa malu, takut salah, hingga kurangnya kepercayaan diri menjadi faktor utama.

Selain itu, lingkungan sekitar yang terlalu sering mengoreksi kesalahan tata bahasa juga kerap membuat siswa enggan untuk berbicara. “Kadang siswa sudah berani bicara, tapi langsung dikoreksi secara keras. Akhirnya mereka memilih diam dan tidak mau mencoba lagi,” ucapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, LDC menghadirkan program pengayaan bernama Nativisit. Program ini melibatkan mahasiswa internasional yang berinteraksi langsung dengan siswa SMP dan SMA melalui berbagai kegiatan menyenangkan.

Dalam program ini, siswa didorong untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris secara alami tanpa tekanan. “Kami setting lingkungannya supaya siswa terpaksa berbicara bahasa Inggris, tapi dengan fun activity. Jadi mereka termotivasi dan merasa nyaman,” katanya.

Suhandini juga menekankan pentingnya peran guru dan orang tua dalam mendukung proses belajar siswa. Ia mengingatkan agar guru dan orang tua tidak bersikap seperti “polisi grammar”, melainkan menjadi pendukung yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi siswa saat berkomunikasi.

“Yang penting anak berani bicara dulu. Grammar bisa diperbaiki belakangan. Guru dan orang tua harus jadi supporter, bukan penakut,” kata Dini.

Oleh karena itu, LDC mengimbau sekolah-sekolah untuk membiasakan penggunaan bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari, meskipun dimulai dari hal-hal sederhana. Dengan latihan yang konsisten dan suasana yang menyenangkan, siswa diharapkan dapat terbiasa dan percaya diri dalam menggunakan bahasa Inggris.

“Target akhirnya memang active speaking. Tapi yang terpenting, siswa tidak takut dulu. Kalau dilakukan rutin dan fun, insyaallah akan terlatih dengan sendirinya,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....