Kunci Ketenangan Jiwa: Rasa Syukur

  • 24 Jan 2026 20:56 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.IC, Purwokerto -Dialog Mutiara Pagi RRI Purwokerto membahas tema Kunci Ketenangan Jiwa Bagian Tiga bersama Ustadz Hendro Kuncoro, S.PT. Dalam pemaparannya, Ustadz Hendro melanjutkan pembahasan tentang zikrullah dan tawakal sebagai dasar ketenangan jiwa.

Ustadz menegaskan bahwa selain mengingat Allah dan berserah diri, kunci penting lainnya untuk menjaga ketenangan batin adalah sikap bersyukur atas apa yang dimiliki. Rasa syukur membuat seseorang merasa cukup dan tidak mudah gelisah.

Ustadz mengibaratkan orang yang sudah memiliki kebutuhan dasar, tetapi tetap resah karena membandingkan dirinya dengan orang lain. Sebaliknya, jika terus memikirkan apa yang tidak dimiliki, maka hati akan sulit merasa tenang.

“Ketika orang sadar bahwa apa yang sebenarnya dia butuhkan sudah dia miliki, orang akan bersyukur dan bersyukur itu menenangkan jiwa,” kata Ustadz Hendro.

Menurutnya, tambahan nikmat itu bukan hanya berupa harta, tetapi juga rasa tenteram dan bahagia dalam hidup. Namun jika seseorang kufur nikmat, maka yang muncul justru kegelisahan dan kesempitan batin.

“Jika kalian bersyukur, sungguh pasti akan ditambah nikmatnya,” kata Ustadz Hendro mengutip Surah Ibrahim ayat 7 tentang janji Allah kepada orang yang bersyukur.

Dalam dialog tersebut, Ustadz Hendro juga mengingatkan bahwa ketenangan jiwa tidak bisa diraih hanya dengan banyaknya harta. Ia memberi contoh tentang orang yang memiliki pasangan, rumah, atau kendaraan, tetapi tetap tidak bahagia karena selalu membandingkan dengan milik orang lain.

“Saya sudah punya rumah, tetangga saya rumahnya lebih bagus, saya jadi tidak bahagia,” katanya, hal itu menunjukkan bahwa kebahagiaan sangat ditentukan oleh cara memandang nikmat, bukan jumlah nikmat itu sendiri.

Ustadz Hendro menanggapi pertanyaan tentang orang yang sulit bergaul, cemburu berlebihan, dan merasa tertekan. Ia menilai kondisi tersebut bisa muncul karena fokus hidup hanya pada dunia dan harta.

“Orang itu kalau tidak pernah punya rasa syukur, seberapa pun hartanya tidak pernah membahagiakan,” katanya menyarankan agar orang seperti itu dinasihati dengan baik dan didoakan agar mendapat hidayah.

Pada akhir dialog, Ustadz Hendro menyimpulkan bahwa kunci ketenangan jiwa terletak pada kemampuan mensyukuri nikmat Allah. Ia berharap pendengar dapat menjalani hidup dengan lebih lapang, tidak terjebak pada keinginan berlebihan, dan selalu mengingat Allah agar ketenangan jiwa benar-benar mengakar dalam kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....