Budaya Ketoprak: Sebuah Warisan yang Harus Dilestarikan
- 14 Jan 2026 14:09 WIB
- Purwokerto
KBRN, Purwokerto: Ketoprak adalah sebuah bentuk seni pertunjukan tradisional Jawa yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa selama berabad-abad. Dengan kombinasi musik, tari, dan drama, ketoprak telah menjadi sebuah bentuk ekspresi budaya yang unik dan menarik.
Namun, dengan perkembangan zaman, ketoprak mulai ditinggalkan dan dilupakan oleh generasi muda. Hal ini dibahas dalam Podcast Tematik RRI Purwokerto bersama Yusmanto, S.Sn M.Sn, Owner Sanggar Seni Sekar Shanty Karangjati Susukan Banjarnegara, dan Wahyudi, Ketua Paguyuban Ketoprak Wahyu Kencana.
“Dalam perkembangannya, ketoprak semakin mendapat ruang ketika memasuki masa awal Orde Baru. Melalui kebijakan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), setiap daerah didorong untuk menggali dan mengangkat kearifan lokal sebagai identitas budaya. Dari sinilah berbagai kesenian tradisional kembali dihidupkan, termasuk seni-seni yang berakar dari Keraton Mataram seperti wayang orang, tari-tarian klasik, wirengan, langenan, hingga mandrawa,” ungkap Yusmanto, S.Sn M.Sn, Owner Sanggar Seni Sekar Shanty Karangjati Susukan Banjarnegara
Di wilayah Banyumas , perkembangan kesenian tradisional tersebut dilakukan secara luas, mulai dari Banyumas, Banjarnegara, Cilacap, Tegal, hingga Pekalongan, dengan salah satu pusat pembinaan berada di Korem 071 Banyumas, Ketoprak menjadi kesenian yang unik karena memadukan berbagai unsur seni, mulai dari karawitan, olah suara atau nembang, gerak tari, hingga akting dramatik. Bahkan, dalam pertunjukannya dikenal peran-peran khas seperti tukang kepluk dan adegan perkelahian yang menjadi daya tarik tersendiri.
Pelestarian ketoprak juga tidak lepas dari peran lembaga-lembaga budaya keraton. Keraton Surakarta, yang kemudian dikembangkan di tengah masyarakat. Salah satu wujud nyatanya adalah terbentuknya kelompok Martara yang secara formal menjalin kerja sama dengan RRI Purwokerto sebagai media pelestarian budaya.
“Proses belajar ketoprak pada masa lalu dilakukan secara alami. Para pemain muda belajar langsung dengan mengamati para senior yang memiliki kemampuan akting luar biasa. Adegan-adegan emosional, seperti kisah gandrung dan drama percintaan, kerap mampu membawa penonton larut dalam cerita,” ungkap Wahyudi, Ketua Paguyuban Ketoprak Wahyu Kencana.
Namun demikian, tantangan pelestarian ketoprak di masa kini semakin besar. Wahyudi menilai, generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, banyak yang tidak lagi mengenal apa itu ketoprak. Di tengah dominasi isu ekonomi dan politik, kesenian tradisional sering kali berada di urutan terakhir perhatian publik. Selain itu, para pelaku seni juga menghadapi keterbatasan dalam menggelar pertunjukan secara rutin.
Meski begitu, RRI dinilai memiliki peran strategis sejak awal hingga sekarang dalam menjaga keberlangsungan ketoprak. Melalui siaran budaya dan dialog interaktif, RRI menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kembali kesenian tradisional kepada masyarakat luas. Dari sinilah gagasan pendirian Paguyuban Ketoprak Wahyu Kencana muncul, sebagai upaya menjaga sekaligus mencari peluang agar ketoprak tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. (Silma)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....