Sifat-Sifat Buruk Manusia Menurut Al-Qur'an

  • 21 Okt 2025 21:39 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Purwokerto: RRI Purwokerto kembali menggelar Dialog Religi Pagi edisi dengan mengusung tema penting yaitu Sifat-sifat Buruk Manusia Menurut Al-Qur'an. Dialog menghadirkan Ustadz Enjang Burhanuddin, yang menjelaskan bahwa Al-Qur'an secara rinci memaparkan karakter buruk manusia agar umat Islam dapat mengenali dan berusaha menjauhinya.

Ustadz Enjang mengingatkan bahwa manusia meskipun telah dimuliakan dan diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, tetap memiliki potensi besar untuk tergelincir ke dalam keburukan. Fitrah kebaikan yang dimiliki setiap manusia bisa rusak oleh lingkungan, hawa nafsu, dan godaan setan.

Dalam pandangan Al-Qur'an, Ustadz Enjang memaparkan sepuluh sifat buruk yang melekat pada manusia. Di awal tausiahnya, ia menjelaskan tiga sifat utama. Pertama, manusia itu makhluk yang tergesa-gesa ('ajal), seringkali tidak sabar dan menginginkan hasil cepat tanpa mempertimbangkan akibatnya.

Kedua, manusia bersifat kikir dan cinta dunia (bakhil dan hubbud dunya). Kecintaan berlebihan pada harta menghalangi mereka untuk menunaikan kewajiban, seperti berzakat, yang ia sebut masih minim, bahkan di Banyumas.

Sifat buruk ketiga adalah zalim dan bodoh (zaluman jahula). Ustadz Enjang menjelaskan, sifat zaluman (sangat zalim) dan jahula (sangat bodoh) yang disematkan Al-Qur'an menunjukkan kezaliman manusia seringkali melampaui batas.

Kezaliman ini ditunjukkan melalui tindakan sering menyalahgunakan amanah yang diberikan oleh Allah SWT seperti melalaikan salat, atau tidak memegang amanah sebagai pemimpin. Ustadz Enjang melanjutkan dengan sifat buruk keempat: ingkar dan kufur nikmat.

"Innal insana lirabbihi lakanud. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar terhadap Tuhannya," kata Ustadz Enjang mengutip Surah Al-Adiyat ayat 6 yang menyatakan bahwa manusia jenis ini hanya mengingat hal-hal buruk dan lupa mensyukuri nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya.

Sifat buruk lainnya adalah gampang menyerah atau putus asa (yaqnatun), suka membantah (jadala) dalam konteks yang buruk atau debat kusir, memiliki karakter lemah (dhi’if) dalam menahan hawa nafsu, serta tidak bersabar dan gampang panik (jazua). Sifat membantah ini, menurutnya, sering terlihat di media sosial, di mana perdebatan hanya bertujuan untuk mempertahankan ego dan pandangan dirinya.

Ustadz Enjang menyebut sifat sombong dan angkuh sebagai karakter iblis yang merasa lebih baik daripada orang lain. Karakter buruk terakhir adalah lalai dan lupa kepada Allah (ghoflah atau ghafil).

Kelalaian ini terjadi karena manusia lupa bahwa tujuan hidup di dunia adalah akhirat. Ia mengingatkan hendaknya mempersiapkan bekal terbaik selagi masih hidup.

"Tiadalah akhirat ini lebih baik darimu daripada kehidupan dunia," kata Ustadz Enjang.

Dalam sesi tanya jawab, menanggapi pertanyaan Ibu Sumiah tentang kiat agar tidak mudah marah dan lebih bersabar, Ustadz Enjang memberikan beberapa solusi, termasuk mengingat pahala sabar yang tanpa batas dan memilih untuk diam saat marah, sesuai ajaran Nabi. "Kata Nabi, ahadukum falyaskut. Kalau salah seorang di antara kalian marah, maka hendaknya dia memilih untuk diam," katanya. Solusi lain adalah berwudhu untuk memadamkan amarah yang berasal dari setan, duduk, berbaring, hingga melaksanakan salat.

Menanggapi pertanyaan Guru Rahmat tentang dominasi sifat fujur (kejahatan) atau taqwa (ketakwaan) yang diilhamkan Allah SWT, Ustadz Enjang menegaskan dominasi keduanya sangat bergantung pada kita. Ia mengibaratkan ada dua serigala (nafsu dan kalbu) dalam diri, dan yang lebih dominan adalah yang diberi makan.

Jika seseorang memilih untuk berkumpul dengan orang-orang yang saleh, hadir di tempat-tempat majelis taklim, kajian, maka kebaikan akan lebih dominan. Sebaliknya, lingkungan yang toxic akan memberi makan keburukan dalam diri.

Secara keseluruhan, Ustadz Enjang Burhanuddin menggarisbawahi bahwa Al-Qur'an secara gamblang membeberkan sepuluh sifat buruk manusia mulai dari tergesa-gesa, kikir, zalim, hingga sombong dan lalai sebagai peringatan. Kunci untuk menghindari sifat-sifat negatif tersebut terletak pada kesadaran bahwa manusia memiliki potensi baik (kalbu) dan buruk (nafsu), dan yang akan mendominasi adalah yang dipelihara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....