Masjid Dawuhan: Jejak Sejarah dan Spiritualitas Islam Banyumas
- 23 Jun 2025 10:34 WIB
- Purwokerto
KBRN, Banyumas: Masjid Nurul Huda Dawuhan di Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, bukan hanya menjadi pusat ibadah bagi warga sekitar. Letaknya yang berdampingan dengan kompleks makam tokoh-tokoh penting menjadikannya salah satu tujuan ziarah paling ramai di wilayah tersebut.
Menurut pengurus masjid yang dituakan, Sukirman, masjid ini diperkirakan berdiri antara tahun 1870 hingga 1912. Perkiraan tersebut merujuk pada relief beraksara Arab yang terukir di beduk masjid dan mencantumkan nama Tumenggung Mertadireja, Bupati Banyumas pada akhir abad ke-19.
Masjid ini didirikan oleh Kiai Ali Muhibat, seorang tokoh penggerak Islam di Dawuhan yang berasal dari Gumelem. Perannya menjadi kunci dalam penyebaran ajaran Islam di daerah yang saat itu dikenal kuat mempertahankan tradisi budaya lokal.
“Yang pertama membangun adalah Kiai Ali Muhibat, tokoh penggerak utama Islam di Dawuhan. Konon, beliau berasal dari Gumelem, bukan warga asli sini, karena Dawuhan dulu dikenal sebagai desa yang memegang keras budayanya,” ujar Sukirman.

Selain sebagai tempat ibadah, kompleks ini juga menjadi lokasi pemakaman beberapa tokoh penting Banyumas. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya adalah Bupati pertama Banyumas Joko Kaiman, R.M. Margono Djojohadikusumo, serta sejumlah Adipati Banyumas lainnya.
Masjid tetap aktif digunakan untuk kegiatan peribadatan harian oleh masyarakat sekitar. Keberadaannya yang berdampingan dengan makam tidak menimbulkan persoalan atau penolakan dari warga.
“Keberadaan makam-makam tua di sekitar masjid sejauh ini tidak pernah menjadi persoalan. Masyarakat sekarang wawasannya semakin luas, sehingga bisa memahami dan membedakan mana yang sesuai dengan ajaran agama dan mana yang tidak,” katanya.
Berkaitan dengan kerabat Presiden Republik Indonesia yang juga dimakamkan di Makam Dawuhan, Sukirman menyebut bantuan sering datang dari yayasan keluarga Prabowo Subianto. Dukungan tersebut telah berlangsung selama kurang lebih 20 tahun.
Bagi Sukirman dan warga sekitar, Masjid Nurul Huda Dawuhan bukan sekadar tempat salat, tapi juga simbol sejarah dan warisan leluhur. Ia berharap, generasi mendatang terus menjaga fungsi masjid dan makam ini sebagai ruang ibadah, ziarah, dan pengingat akan akar keislaman di Banyumas. (FR/Marcellia).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....