FIB Unsoed Gelar Seminar Manajemen Produksi Seni Tradisional

  • 04 Jun 2025 14:38 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar seminar budaya bertema "Manajemen Produksi Seni Pertunjukan Tradisional di Era Digital dan Upaya Pelestariannya" pada Rabu (4/6/2025). Seminar yang berlangsung di Aula Bambang Lelono FIB Unsoed ini menghadirkan Art Director Sanggar Seni Jagabaya Nuswantara, Ridwan Bungsu, sebagai narasumber utama.

Dalam kesempatan tersebut, Ridwan Bungsu menekankan pentingnya manajemen produksi dalam seni pertunjukan tradisional. Ia menilai, manajemen produksi terdiri dari dua unsur yang sangat penting, yaitu produksi dan artistik. Kedua tim ini, menurutnya, merupakan kunci keberhasilan sebuah produksi seni, sehingga diperlukan kerja sama yang kuat.

"Kalau tim produksi mau memproduksi sebuah pertunjukan, pastinya tim kreatif itu harus ditukung, disupport penuh sama tim produksi. Kolaborasi dua tim itu penting sekali dalam sebuah produksi pertunjukan.

Namun, Ridwan melihat, masih banyak sanggar seni di Kabupaten Banyumas saat ini cenderung lebih fokus pada penciptaan karya (artistik) dan kurang memperhatikan aspek produksi di balik layar. Hal ini sering kali mengakibatkan ekspektasi terhadap sebuah karya tidak terpenuhi karena minimnya dukungan dari tim produksi.

“Kalau artistik jalan sendiri tanpa produksi yang baik, hasilnya juga tidak akan maksimal. Di banyak sanggar seni, seniman fokus berkarya, tapi aspek produksi sering terabaikan. Ini membuat ekspektasi karya harus diturunkan karena tidak ada dukungan produksi yang memadai,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mendorong kegiatan seminar semacam ini dapat lebih sering diadakan, khususnya bagi para pegiat seni yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang manajemen produksi. Ridwan berharap, melalui peningkatan pemahaman tentang manajemen produksi, karya-karya seniman di Kabupaten Banyumas dapat terealisasi dengan baik dan sesuai ekspektasi.

"Harapannya, dengan sering-seringnya workshop atau seminar atau diskusi tentang produksi pertunjukan, teman-teman pengkarya, teman-teman seniman itu akhirnya nanti akan dapat lebih mengembangkan proses kreatifnya," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, juga ditampilkan pertunjukan seni ebeg bertajuk “Sing Eling”. Ridwan mengungkapkan, melalui pertunjukan tersebut pihaknya ingin mengingatkan kembali makna filosofis ebeg sebagai seni tradisional yang luhur.

“Ebeg mengajarkan kita untuk tetap eling, sadar diri, tidak lupa diri. Lewat pertunjukan ini, kami ingin mengajak generasi muda untuk mengenal lebih dalam esensi dan filosofi ebeg. Jangan sampai seni ini justru disalahgunakan, seperti kasus terakhir yang ramai karena tawuran setelah pertunjukan,” ujarnya prihatin.

Seminar juga menjadi momentum penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Sanggar Seni Jagabaya Nuswantara dengan Fakultas Ilmu Budaya Unsoed serta SMK Negeri 3 Banyumas. Kerja sama ini mencakup pengembangan seni budaya, pertunjukan tradisional, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung industri seni lokal. (FR).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....