Tadarus Sastra Banyumas, Menembus Batas Sunyi dengan Bahasa Isyarat
- 15 Mar 2026 16:27 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Tadarus Sastra yang digelar Yayasan Serayu Penawara bersama Sanggar Seni Samudra tak hanya mendapat sambutan antusias dari masyarakat, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang lebih inklusif. Kegiatan ini menjadi semakin bermakna karena sastra dapat dinikmati pula oleh penyandang disabilitas, khususnya tuna rungu, melalui penggunaan bahasa isyarat.
Dengan kombinasi pembacaan sastra dan penerjemahan bahasa isyarat, para penyandang tuna rungu tetap dapat memahami pesan dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra yang ditampilkan. Pertunjukan tersebut dikemas secara menarik dan mengesankan. Tidak sekadar menjadi hiburan, malam itu sastra seolah hadir sebagai medium refleksi yang menghadirkan berbagai nilai kehidupan.
Sebelumnya, Sanggar Seni Samudra telah menghadirkan pertunjukan Sastra Sulap Puitik yang dibawakan Yoga Bagus Wicaksana pada Jumat (13/3/2026) di Cafe Bahenol Karangklesem. Dalam kesempatan berikutnya, sanggar tersebut menghadirkan terobosan baru dengan menyertakan penerjemah bahasa isyarat agar karya sastra dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah seniman membacakan puisi karya masing-masing. Salah satunya Tejo, seniman asal Susukan, Banjarnegara, yang membawakan puisi berjudul “Razan”. Puisi karya penulis Helvy Tiana Rosa tersebut mengangkat tema kemanusiaan dan penderitaan, khususnya terkait konflik di Palestina.
Tejo menilai kegiatan pembacaan puisi seperti ini penting untuk terus digelar sebagai upaya memperkuat ekosistem sastra. Menurutnya, selain kemampuan berakting atau tampil di panggung, para pegiat seni juga perlu memperkuat karya tulis sebagai fondasi utama dalam berkarya.
“Akting bagi pegiat seni memang penting, namun kekuatan tulisan juga tidak boleh diabaikan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima RRI, Sabtu (14/3/2026).
Sementara itu, seniman Joni Jonte turut membawakan puisi yang dikemas dalam bentuk tembang dengan iringan musik. Penampilannya menghadirkan nuansa nostalgia, mengingatkan kembali suasana masa lalu ketika lantunan pujian dari masjid dan surau menggema di berbagai sudut desa dan kota.
Melalui tembang dan pujian yang dibawakannya, Joni Jonte mengajak masyarakat kembali mengingat pentingnya kedisiplinan dalam menjalankan salat lima waktu. Gaya penyampaiannya yang jenaka, disertai sentuhan satire, membuat suasana Tadarus Sastra malam itu terasa hangat dan akrab.
Acara tersebut tidak hanya dihadiri generasi muda, seperti siswa SMA dan mahasiswa, tetapi juga dihadiri sejumlah tokoh serta maestro seni, di antaranya Edy Romadhon, Titut, Rohadi, dan Bambang Wadoro.
Sepanjang kegiatan, suasana berlangsung hangat dan penuh keakraban. Melalui kolaborasi seni yang apik, Tadarus Sastra juga menjadi ruang untuk menemukan kembali makna spiritualitas di bulan Ramadan 1447 Hijriah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....