Sampah Organik Ramadan: Ancaman Serius bagi Bumi

  • 13 Mar 2026 09:38 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Fenomena "lapar mata" menjelang waktu berbuka puasa seringkali menjadi pemicu pemborosan makanan yang berdampak buruk, baik bagi lingkungan maupun nilai spiritual ibadah puasa itu sendiri. Hal ini menjadi topik utama dalam dialog Cafe Ramadan Pro 2 FM RRI Purwokerto pada Minggu (8/3/2026), yang menghadirkan narasumber Rahman Alfian, dosen dari Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) UIN Saizu Purwokerto.

Dalam diskusi tersebut, Alfian menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering kali membeli takjil secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kapasitas konsumsi tubuh. Ia menjelaskan bahwa secara antropologis, manusia memiliki "survival mode" atau naluri purba untuk menimbun makanan.

Namun, di era modern, naluri ini justru sering berubah menjadi perilaku konsumtif yang tidak terkendali saat berpuasa. Istilah "luka bagi bumi" merujuk pada dampak ekologis dari sisa makanan.

Alfian mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sekitar 40% sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Indonesia merupakan sisa makanan organik, bukan plastik. Penumpukan sisa makanan ini menghasilkan gas metana yang berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global.

"Mungkin kita merasa hanya menyisakan sedikit, namun jika satu juta orang berpikiran sama, akumulasinya akan menjadi masalah besar bagi masa depan anak cucu kita," tegasnya.

Dari sisi spiritual, sisa makanan disebut sebagai "ujian bagi puasa" karena esensi Ramadan adalah pengendalian diri. Alfian mengutip Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 31 yang melarang perilaku berlebihan.

Ia mengingatkan bahwa keberkahan sebuah hidangan sering kali terletak pada suapan terakhir yang justru kerap terbuang. Membuang makanan juga dianggap sebagai bentuk kurangnya rasa syukur terhadap proses panjang terciptanya sepiring nasi, yang melibatkan keringat petani serta dukungan ekosistem alam seperti air dan matahari.

Sebagai solusi, Alfian mengajak masyarakat untuk mulai mempraktikkan mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh. Beberapa langkah praktis yang disarankan antara lain:

  1. Membeli secukupnya: Mengendalikan hasrat belanja takjil dan mendahulukan kebutuhan daripada keinginan.
  2. Berbagi (Sedekah): Jika terlanjur membeli dalam porsi besar, sebaiknya makanan tersebut segera dibagikan kepada orang lain sebelum menjadi mubazir.
  3. Manajemen Sisa: Menyimpan sisa makanan dengan baik untuk dikonsumsi kembali saat sahur atau dihangatkan kembali.

"Jangan sampai kita puasa sebulan penuh, namun hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja tanpa meresapi esensi perbaikan diri dan kepedulian terhadap lingkungan," tutup Alfian dalam closing statement-nya.

Rekomendasi Berita