Ramadan Penuh Toleransi
- 11 Mar 2026 13:58 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banjarnegara - Umat Islam, Buddha dan Kristen Belajar Bikin Dawet Ayu di Vihara, Pemandangan berbeda terlihat di Vihara Dhammaloka, Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara beberapa waktu lalu. Di tengah bulan Ramadan, umat Buddha dan umat Kristen justru berkumpul di vihara untuk belajar membuat minuman khas daerah, Dawet Ayu Banjarnegara.
Kegiatan ini diprakarsai oleh penyuluh agama Islam dari Kementerian Agama Banjarnegara sebagai upaya memperkuat kerukunan antar umat beragama sekaligus memberikan keterampilan ekonomi bagi masyarakat.
Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan. Mereka tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pembuatan Dawet Ayu secara lengkap.
Peserta dibagi menjadi dua kelompok dan mempelajari proses pembuatan minuman legendaris tersebut secara runtut. Mulai dari menakar bahan baku, merebus adonan, mencetak butiran dawet, hingga meracik santan dan juruh gula merah yang menjadi ciri khas rasa manis legit Dawet Ayu.
Pelatihan ini dipandu oleh Hendriyanto, penyuluh agama Islam yang juga dikenal memiliki keahlian membuat minuman khas Banjarnegara. Ia bahkan mengembangkan berbagai inovasi Dawet Ayu.
“Dawet Ayu ini bukan hanya minuman khas Banjarnegara, tetapi juga punya potensi ekonomi yang cukup besar. Selain mudah dibuat, bahan-bahannya juga mudah didapat sehingga cocok dijadikan usaha rumahan,” ujar Hendriyanto.
Ia menambahkan, Dawet Ayu kini juga bisa dikreasikan dengan berbagai bahan tambahan.“Kami juga mencoba inovasi seperti dawet ayu salak, dawet ayu terong Belanda, bahkan menggunakan pati garut agar lebih ramah di lambung,” katanya.
Pendeta Gereja Suara Kebenaran Injil, Heru Siswanto, mengatakan kegiatan ini menjadi contoh nyata kerukunan antarumat beragama di Banjarnegara.
“Kegiatan ini merupakan inisiatif dari penyuluh agama Islam Kementerian Agama Banjarnegara. Kami sangat mendukung karena ini menunjukkan bahwa di bulan Ramadan pun kita bisa saling berbagi dan mempererat kebersamaan antarumat beragama,” ujar Heru.
Menurutnya, pelatihan tersebut bukan hanya soal membuat minuman tradisional, tetapi juga menjadi ruang pertemuan yang memperkuat silaturahmi.
Sementara itu, Penyuluh Agama Buddha Banjarnegara, Ade Retno Purwati, menjelaskan bahwa peserta pelatihan berasal dari umat Buddha dan umat Kristen yang ingin belajar keterampilan baru.
“Tujuan kegiatan ini untuk melatih keterampilan umat, khususnya dalam berwirausaha. Dawet Ayu dipilih karena merupakan ikon kuliner Banjarnegara yang mudah dipasarkan,” jelas Ade Retno.
Ketua Vihara Dhammaloka, Budhi Primadana, juga menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan ini membawa manfaat ganda, baik dari sisi sosial maupun ekonomi.
“Selain menumbuhkan moderasi beragama, kegiatan ini juga bisa menjadi sarana pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi perempuan yang ingin mencoba usaha Dawet Ayu Banjarnegara,” kata Budhi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....