Merendah untuk Meninggi: Belajar Keikhlasan Melalui Puasa
- 28 Feb 2026 21:37 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Program Cafe Ramadhan yang disiarkan Pro 2 FM kembali hadir dengan topik "Merendah untuk Meninggi", Topik ini disampaikan oleh Ustaz Irham M. Azama, Lc., M.A., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kamis (19/2/2026).
Fenomena Humblebragging di Media Sosial
Ustaz Irham memulai perbincangan dengan menyoroti istilah "merendah untuk meninggi" yang sering kali disalah artikan sebagai humble bragging atau pamer secara halus. Fenomena ini merujuk kepada sikap seseorang yang seolah-olah mengeluh atau merendah diri, namun sebenarnya bertujuan untuk mendapatkan pujian atau validasi atas pencapaiannya. Sikap ini boleh menjadi pintu kepada sifat riya dan kesombongan yang sangat halus, sehingga perlu dihindari, terutama dalam menjalankan ibadah Ramadhan.
Hakikat Merendah di Hadapan Sang Pencipta
Makna sebenarnya dari "merendah untuk meninggi" dalam konteks ibadah adalah merendahkan hati (tawadhu) di hadapan Allah SWT untuk mencapai darjat ketakwaan yang lebih tinggi. Ustaz Irham merujuk kepada Surah Al-Qasas ayat 83, yang menegaskan bahawa negeri akhirat diperuntukkan bagi mereka yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi.
Puasa Ramadhan disifatkan sebagai madrasah atau sarana untuk merendahkan ego. Dengan menahan lapar, dahaga, serta menjaga lisan, seorang Muslim diajar untuk menyadari kelemahan diri sebagai hamba.
| Baca juga: Rahasia Pahala tanpa Batas di Bulan Sabar |
Menjaga Kualitas Ibadah dari Penyakit Hati
Dalam dialog tersebut, ditekankan beberapa perkara penting bagi umat Muslim dalam menjalani Ramadhan:
- Menyempurnakan Puasa: Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga pahala puasa daripada perkara-perkara yang membatalkannya, seperti berkata buruk atau menyakiti hati orang lain.
- Ujian Keikhlasan: Ustadz Irham mengingatkan agar amalan seperti tadarus (one day one juz) atau shalat tarawih tidak dijadikan bahan perlombaan untuk mendapatkan pujian manusia. "Jangan sampai kita merasa lebih baik daripada orang lain yang amalan ibadahnya mungkin tidak sebanyak kita," ujarnya.
- Inspirasi Tokoh: Beliau membandingkan kisah Raja Jabalah yang murtad kerana kesombongan statusnya, dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang tetap tawadhu dan sentiasa mengingati ayat-ayat Allah di akhir hayatnya walaupun memiliki kuasa yang besar.
Ustaz Irham mengajak seluruh umat Muslim untuk menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk memurnikan niat. Dengan merendahkan diri dan ego melalui ibadah yang ikhlas, diharapkan umat dapat meraih gelaran "Muttaqin" dan darjat tertinggi di sisi Allah SWT.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....