Ramadan 2026, BI Jaga Stabilitas Harga Pangan

  • 25 Feb 2026 09:11 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Menjelang dan selama bulan Ramadan, perkembangan harga kebutuhan pokok di wilayah kerja Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto terpantau relatif terkendali. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), dua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah tersebut, yakni Purwokerto dan Cilacap, justru mengalami deflasi pada Januari 2026.

Kepala Unit Data, Statistik dan Kehumasan Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Alvina Ulayya, menjelaskan bahwa Purwokerto mengalami deflasi sebesar 0,36 persen, sementara Cilacap tercatat deflasi 0,42 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

“Di Januari, berdasarkan data BPS, Purwokerto deflasi 0,36 persen dan Cilacap deflasi 0,42 persen. Ini karena permintaan masyarakat sudah kembali normal setelah HBKN,” jelas Alvina pada Rabu (25/02/26).

Meski demikian, memasuki Ramadan terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PHPS), komoditas seperti daging sapi dan telur ayam ras terpantau naik pada periode Januari hingga Februari.

Sementara itu, bawang merah, daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit menunjukkan pergerakan harga yang fluktuatif. Secara historis, BI mencatat adanya pola musiman kenaikan harga pangan selama Ramadan dalam lima tahun terakhir.

Di Purwokerto, lima komoditas yang paling sering mengalami kenaikan harga saat Ramadan adalah bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, dan minyak goreng. Adapun di Cilacap, komoditas yang kerap naik meliputi telur ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, serta daging ayam ras.

“Kalau kita tarik data lima tahun ke belakang, memang ada peningkatan harga beberapa komoditas pangan setiap Ramadan. Ini pola musiman yang terus kami pantau,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, BI terus memperkuat sinergi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Pada awal Februari, BI bersama pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), serta instansi vertikal telah menggelar high level meeting guna mengantisipasi potensi gejolak harga menjelang Idulfitri.

Dari sisi pasokan, BI memastikan ketersediaan bahan pangan selama HBKN Ramadan dan Idulfitri dalam kondisi aman. Koordinasi dengan dinas perdagangan juga terus dilakukan untuk memantau stok komoditas di pasar-pasar tradisional.

Selain operasi pasar dan pengawasan distribusi, BI juga mengedepankan strategi komunikasi efektif kepada masyarakat. Salah satunya melalui imbauan agar masyarakat berbelanja secara bijak dan tidak melakukan panic buying.

“Kami mengimbau masyarakat untuk berbelanja sesuai kebutuhan. Pasokan tersedia, jadi tidak perlu panik. Dengan belanja bijak, kita juga turut menjaga stabilitas harga,” pungkas Alvina.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....