Konsep Moderasi Beragama dalam Membentuk Mental Kaum Muda

  • 24 Feb 2026 13:17 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Keberagaman agama di Indonesia menjadi suatu hal yang tak dapat dihindari. Dosen Tasawuf dan Psikoterapi Islam, Ismail Lc., M.Hum., menegaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti membenarkan semua agama, melainkan bersikap tengah, seimbang, adil, dan toleran dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Menurutnya, setiap pemeluk agama tetap meyakini ajarannya sebagai yang paling benar, namun tetap menghormati keyakinan orang lain.

Ismail menjelaskan, dalam konteks sosial dan kebangsaan, sikap saling menghargai antarumat beragama justru menjadi bagian penting dari ajaran agama itu sendiri. Perdebatan seperti boleh atau tidaknya mengucapkan selamat hari raya agama lain, menurutnya, perlu dipahami secara proporsional.

" Kita melihatnya dari ranah sosial, bukan pada ranah pembenaran keyakinan. Selama tidak mengganggu akidah, interaksi sosial tetap harus dijaga demi kerukunan< " katanya.

Lebih lanjut, ia menyoroti kondisi mental kaum muda yang dinilai masih dalam tahap pencarian jati diri, sehingga rentan terpapar paham ekstrem maupun radikal. Ismail beranggapan kaum muda sering menjadi sasaran karena belum memiliki pondasi moderasi beragama yang kuat. Oleh sebab itu, pemahaman prinsip tawasuth (tengah), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), dan tasamuh (toleran) perlu ditanamkan sejak dini.

Di era digital, anak muda juga diimbau bijak dalam menggunakan media sosial. Ismail menekankan perlunya mengumpulkan referensi yang beragam agar tidak terjebak dalam pandangan yang sempit. Selain itu, peran keluarga, lingkungan, serta lembaga pendidikan dinilai krusial dalam membangun karakter inklusif dan mendorong komunikasi yang sehat di tengah perbedaan.

Menutup perbincangan, Ismail menegaskan bahwa moderasi beragama tidak melemahkan keyakinan, melainkan memperkuat kualitas hubungan antarmanusia.

“Sesalah apa pun menurut pandangan kita, itu tidak kemudian memotong jalur silaturahmi dan kerja sama. Karena dalam beragama, bukan hanya habluminallah, tetapi juga habluminannas,” pungkasnya. (Milly)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....