Kapolresta Banyumas Kenang Nonton Piala Dunia Diam-Diam

  • 22 Mei 2026 08:28 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Menonton pertandingan Piala Dunia di era sekarang bisa dilakukan dengan mudah melalui televisi digital hingga layanan streaming. Namun bagi Kapolresta Banyumas Kombes Pol Petrus Silalahi, kenangan menyaksikan ajang sepak bola terbesar di dunia itu justru menjadi pengalaman berharga di masa kecil yang penuh keterbatasan.

Petrus mengenang, saat masih berusia sekitar 6 hingga 8 tahun dan tinggal di Medan, akses terhadap televisi masih sangat terbatas. Tidak semua keluarga memiliki TV, sehingga untuk bisa menonton Piala Dunia, ia dan teman-temannya harus mencari cara lain.

“Dulu kan kita nggak punya TV. Jadi beberapa teman itu punya TV. Kita sampai nonton itu, pintunya ditutup. Terus ada lubang kunci, kita ngintip,” kenang Kombes Pol Petrus Silalahi.

Dirinya menceritakan, bayangan dari dalam ruangan sering terlihat dari luar, sehingga mereka harus berhati-hati agar tidak ketahuan saat menonton secara diam-diam. Meski sederhana, momen itu menjadi kenangan yang tak terlupakan di masa kecilnya.

“Lubang kuncinya itu jadi tempat kita sembunyi. Kadang ditutup lagi supaya orang luar tidak bisa lihat,” tambahnya.

Kapolresta Banyumas itu juga mengaku memiliki tim favorit sejak kecil, yakni Argentina. Kecintaannya terhadap tim tersebut awalnya dipengaruhi oleh kakak-kakaknya.

“Dari dulu favoritnya Argentina. Itu karena abang-abang saya juga suka Argentina,” ujarnya.

Namun seiring berjalannya waktu, kesibukan membuatnya tidak lagi terlalu fanatik terhadap tim tertentu. Petrus bahkan mengaku kini lebih santai dalam mengikuti sepak bola.

“Sekarang yang menang itu yang saya dukung,” katanya sambil tersenyum.

Di balik cerita masa kecilnya, dirinya juga pernah aktif bermain sepak bola di kampung saat remaja, sekitar usia 19 tahun di Medan. Ia bahkan kerap bermain sebagai penyerang dalam berbagai pertandingan antar kampung.

Namun, sebuah kejadian membuatnya berhenti bermain sepak bola. Ia menceritakan pernah tanpa sengaja membuat seorang lawan jatuh hingga mengalami patah kaki saat berebut bola.

“Sejak itu saya nggak mau main bola lagi,” ungkapnya.

Kini, kisah masa kecil itu menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang Kapresta Banyumas, dari seorang anak yang menonton Piala Dunia dari balik lubang kunci hingga menjadi Kapolresta Banyumas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....