Ratusan Pemanah Tradisional Meriahkan "Sadewo Cup V" di Banyumas
- 15 Jun 2026 11:42 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Alun-alun Kota Lama Banyumas menjadi tempat berkumpulnya ratusan pegiat panahan tradisional dari berbagai daerah dalam ajang Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan "Sadewo Cup V".
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Panahan Tradisional Indonesia (Perpatri) Kabupaten Banyumas itu dibuka langsung oleh Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono pada Minggu (14/6/2026).
Sebanyak 302 pemanah dari 99 paguyuban atau klub jemparingan di bawah naungan Perpatri turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Para peserta datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Madura, menjadikan ajang ini sebagai salah satu pertemuan terbesar komunitas panahan tradisional di Banyumas.
Ketua Perpatri Kabupaten Banyumas, Yugo Triyono, mengatakan jumlah peserta pada penyelenggaraan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Peserta berasal dari Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga Banten.
"Peserta pada gladen kali ini meningkat, mereka berasal dari Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, DKI Jakarta, dan Banten," kata Yugo.
Menurut Yugo, peningkatan jumlah peserta tidak lepas dari upaya panitia memperluas koordinasi dengan jaringan Perpatri di berbagai daerah, terutama di Jawa Barat. Ia menuturkan mayoritas peserta masih berasal dari kalangan dewasa karena kegiatan ini berfokus pada pelestarian budaya tradisional.
Meski demikian, Perpatri Banyumas mulai memperkenalkan jemparingan kepada pelajar tingkat SD, SMP, hingga SMA sebagai langkah regenerasi sekaligus upaya menumbuhkan minat generasi muda terhadap olahraga panahan tradisional.
Selain lomba jemparingan, kegiatan tersebut juga mempertandingkan kategori jegulan yang tahun ini diikuti 46 peserta. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya diikuti sekitar 28 peserta.
Yugo menjelaskan, jegulan merupakan salah satu teknik panahan tradisional yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Dalam teknik ini, pemanah menarik busur hingga ke dada dan tidak dapat melihat sasaran secara langsung saat melepaskan anak panah.
Ia menambahkan, Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan "Sadewo Cup V" tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi para pegiat panahan tradisional sekaligus upaya pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.
“Kegiatan tersebut juga digelar untuk mendukung pengembangan wisata budaya di kawasan Kota Lama Banyumas,” ujar Yugo.

Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menilai jemparingan bukan sekadar olahraga memanah, melainkan juga sarana pembentukan karakter dan pengendalian diri yang perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.
"Olahraga ini merupakan bentuk pelatihan untuk membentuk karakter karena selain teknik yang harus dikuasai, juga diperlukan ketenangan dan kedamaian batin," ucap Sadewo saat membuka kegiatan.
Pada kesempatan tersebut, Sadewo juga menegaskan komitmennya untuk menjadikan Kota Banyumas sebagai pusat kegiatan budaya di Kabupaten Banyumas melalui berbagai agenda pelestarian budaya yang diselenggarakan secara berkelanjutan.
"Kami ingin menjadikan Banyumas sebagai pusat kegiatan budaya di Kabupaten Banyumas. Itu cita-cita saya," ujarnya.
Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan "Sadewo Cup V", mulai dari panitia, sponsor, hingga para peserta yang datang dari berbagai daerah.
Menurutnya, jemparingan dan jegulan merupakan tradisi yang memiliki nilai filosofis dan budaya yang tinggi sehingga perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....