Kenali Beberapa Istilah Penyebaran Informasi Hoaks di Era Digital

  • 14 Mei 2024 09:12 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Di era digital saat ini penyebaran informasi yang tidak sesuai fakta tentu akan menjadi boomerang di kehidupan. Oleh karena itu, literasi digital menjadi senjata utama dalam memerangi bredarnya informasi palsu.

Salah satunya dengan mengetahui beberapa istilah mengenai penyebaran informasi palsu atau hoaks. Pegiat Literasi FISIP UNSOED Purwokerto, Edi Santoso mengatakan ada dua istilah penyebaran informasi palsu yakni 'Disinformasi' dan Misinformasi.

"Kalau Misinformasi membagikan atau menyebarkan informasi yang salah, tetapi yang menyebarkan tidak sadar jika informasi itu salah. Jadi, dia menanggap itu benar, dan memberikan saran kepada orang terdekatnya," katanya melalui Dialog Pagi RRI Purwokerto, Selasa (14/5/2024).

Sedangkan Disinformasi menurut Edi salah informasi yang sengaja disebarkan oleh seseorang yang sudah tahu kalau itu salah. Dengan kata lain, seseorang orang itu memang berniat jahat untuk menyebarkan informasi salah tersebut dengan tujuan tertentu.

"Itu bisa terjadi tebtang banyak hal, baik di kesehatan, agama, dan politik. Apalagi kemarin setelah melewati pemilu itu tentu banyak hoaks," ucap Edi.

Sementara itu, Pegiat Literasi Digital lainnya bernama King Wiguna ikut menambahkan. Ia mengatakan ada satu lagi istilah penyebaran informasi salah, yakni Malinformasi.

King menejelaskan bahwa Mal informasi sendiri adalah pelaku tahu,dan infirmasinya itu tidak benar. Hampir sama dengan Disinformasi juga.

"Jadi memang agak susah membedakan untuk masyarakat umum. Bahkan, untuk kami sendiri yang sudah sering berhadapan dengan pendidikan literasi digital 3 itu pun susah untuk membedakan kalau batu pertama mendapatkan informasi," katanya, menjelaskan.

Oleh karena itu, menurutnya, kompetensi literasi digital sangat diperlukan oleh masyarakat umum. Sebab, literasi digital sendiri hampir sama dengan kompetensi baca, dan lumerik.

"Tentang bagaimana kita tidak hanya bisa menggunakan perangkat digital, tetapi kita punya pemahaman, atau pemikiran kritis ketika berada di dunia digital ini.

Sehingga setidaknya kita punya pertahanan diri untuk memilah dan memilih informasi yang bisa dikategorikan disinformasi, Misinformasi maupun malinfirmasi tadi," kata King, menjelaskan.

Terakhir King mengingatkan bahwa kemampuan literasi digital ini menjadi penting diera digital. Bahkan menjadi salah satu kompetensi yang wajib, diabad 21 ini karena sekarang semua aktivitas infiormasi yang dilakukan itu adanya di digital.

"Memang semua itu merupakan persamaan terkait penyebaran berita tidak benar. Yang membedakan hanya bagaimana si penerima dan si yang menyampaikan mengetahui mana yang benar dan salah," ujarnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....