Melawan Ancaman Jeratan Judi Online menuju Ruang Digital yang Sehat

  • 14 Agt 2026 13:30 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID Purwokerto - Menyoroti judi online sebagai ancaman serius bagi tatanan sosial dan ekonomi di Indonesia, diselenggarakan diskusi publik oleh Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media bersama Komisi 1 DPR RI bertajuk "Waspada Judi Online" di kanal Live Streaming Youtube @ditjenpkm, yang menekankan pentingnya kesadaran bahaya ini menyusup ke berbagai lapisan masyarakat, Kamis (13/8/2026).

Rahel Mariam Sina dari Komisi I DPR RI menegaskan bahwa meskipun pemerintah terus berupaya memperkuat sistem pengawasan digital, teknologi saat ini berkembang jauh lebih cepat daripada regulasi. Oleh karena itu, literasi digital bagi orang tua, guru, dan anak muda menjadi kunci utama untuk memproteksi diri dari jebakan konten negatif di internet. Seperti yang disampaikan mengenai judi online:

"Sebagai individu, kita juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga diri kita sendiri dan orang sekitar kita dari jeratan judi online,” ujarnya.

Fenomena judi online bukan sekadar masalah permainan, melainkan penipuan terencana atau scam. Wildan Hakim, akademisi dari Universitas Al Azhar, menjelaskan bahwa bandar menggunakan algoritma yang diatur sedemikian rupa sehingga hampir mustahil bagi pemain untuk menang secara konsisten. Pemain sering kali terjebak dalam ilusi kemenangan di awal yang justru memicu kecanduan fatal.

"Bandar menggunakan algoritma yang diatur agar pemain judi online itu hampir mustahil menang secara konsisten,” tegas Wildan Hakim.

Data dari PPATK menunjukkan lonjakan transaksi yang mencengangkan, di mana perputaran dana mencapai angka ratusan triliun rupiah per tahun. Kenaikan jumlah transaksi yang signifikan ini mencerminkan betapa masifnya aktivitas judi online di tanah air, yang kini mulai beralih menggunakan kanal pembayaran seperti QRIS untuk mempermudah operasional mereka.

Yanto, PhD dari Unika Atmajaya menambahkan bahwa dampak destruktif dari judi online telah merambah ke berbagai aspek material dan sosial. Banyak individu yang terjerat hingga mengalami krisis finansial, kehilangan pekerjaan, dan bahkan terjerumus ke dalam lingkaran setan pinjaman online (pinjol) yang semakin memperburuk keadaan mereka.

"Judi online kerap menyamar jadi aplikasi game biasa. Jadi, hati-hati kalau ada anak yang kecanduan main game, jangan-jangan sebetulnya itu judi online,” lanjut Yanto, PhD dari Unika Atmajaya

Selain masalah ekonomi, dampak psikologis dan kesehatan mental menjadi ancaman yang tidak kalah berbahaya. Kecanduan judi online dapat menyebabkan stres berat, depresi, hingga munculnya perilaku nekat seperti tindak kriminalitas, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan kasus mutilasi yang dipicu oleh tekanan ekonomi akibat kekalahan dalam perjudian.

Dalam diskusi, para narasumber sepakat bahwa peran keluarga sangat krusial dalam melakukan pencegahan sejak dini. Orang tua diimbau untuk lebih peduli dengan memantau aktivitas digital anak, serta memberikan pendampingan kreatif sebagai alternatif agar mereka tidak terjerumus ke dalam ekosistem permainan judi yang disamarkan.

"Tantangan kita bersama bukan hanya tugas kepolisian atau kementerian, kita perlu saling mengingatkan karena orang terdekatlah yang bisa memberikan pengaruh,” ucap Wildan Hakim

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah telah mengambil tindakan tegas melalui pemblokiran situs judi, penangkapan operator, serta kolaborasi dengan berbagai pihak untuk terus mengedukasi masyarakat. Edukasi dan pemahaman logika matematika dasar mengenai probabilitas kekalahan dalam judi diharapkan mampu menjadi benteng bagi generasi muda agar tidak mudah tergiur.

"Ingat, tidak ada kemenangan sejati dalam judi. Yang ada hanyalah ilusi keberuntungan dan kenyataan kerugian,” simpul Rahel Maryam Sayidina.

Seperti yang disimpulkan, bahwa kemenangan sejati dalam judi online hanyalah ilusi keberuntungan yang berakhir pada kerugian nyata. Sinergi antara pemerintah, keluarga, dan seluruh elemen bangsa adalah langkah mutlak untuk menjadikan ruang digital Indonesia tempat yang lebih sehat, produktif, dan aman bagi generasi penerus. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....