Etika Berpakaian Islami: Menjaga Kesopanan dan Kesucian
- 05 Jan 2026 07:26 WIB
- Purwokerto
KBRN, Purwokerto : Dalam Islam, berpakaian bukan hanya sekedar menutupi tubuh, tapi juga merupakan bagian dari akidah dan akhlak. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk berpakaian dengan cara yang sopan dan suci, seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Hadis.
Etika berpakaian dalam islam dibahas secara mendalam dalam Dialog Tasbih Pro 2 RRI Purwokerto, bagaimana islam mengatur adab berpakaian untuk menjaga kehormatan dan martabat diri.
Diskusi ini dilatarbelakangi oleh pengaruh media sosial yang sangat masif, yang menyebabkan fenomena FOMO dikalangan masyarakat, khususnya generasi Z dalam mengikuti tren outfit terbaru.
Laily Liddini, Lc., M.Hum,. seorang dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto hadir sebagai narasumber yang menekankan bahwa fungsi pakaian melampaui sekedar penutup tubuh, melainkan sebagai identitas moral dan spiritual serta cerminan ketakwaan seseorang.
“Dalam pandangan Islam, pakaian terbaik adalah Libasut Taqwa atau pakaian ketakwaan yang berfungsi untuk menutup aurat secara fisik dan menutup aurat dengan sempurna, Hal ini mencerminkan ketakwaan seseorang secara moral. Berpakaian juga harus didasari oleh niat dan adab ibadah, yang menjadikannya sebagai bentuk penghambatan dan ketaatan kepada Allah,” kata Laily.
“Aturan berpakaian untuk laki – laki andalah antara pusar hingga lutut, sementara bagi perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, dengan catatan tidak ketat, transparan dan berlebihan,” lanjutnya.
Berpakaian dengan pakaian yang ketat atau menerawang, dalam islam tidak di perbolehkan karena dapat memperlihatkan lekuk tubuh, sebab hal ini yang sering menjadi pemicu perbuatan yang tidak baik.
Selain itu, islam juga melarang berpakaian dengan niat ria atau sombong. Pakaian mewah boleh dikenakan, asalkan tidak disertai kesombongan, karena segala yang dikenakan akan dipertanggungjawabkan dihadapan allah.
Menanggapi fenomena seseorang yang berpakaian sesuai syariat hanya di lingkungan tertentu misalnya ketika di kampus atau masjid, setelahnya kembali ke gaya semula. Hal ini sangat bergantung pada kekuatan keimanan seornag individu. Narasmber juga menegaskan bahwa hidayah tidak seharusnya ditunggu, melainkan harus dicari dan diperjuangkan melalui usaha berkelanjutan untuk menjadi lebih baik. Ujarnya
Dengan demikian, pemahaman dan penerapan etika berpakaian yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis menjadi panduan penting bagi umat muslim dalam kehidupan sehari – hari, guna menciptakan tatanan sosial yang menjungjung nilai nilai kesucian dan kehormatan. Pakaian haruslah dijadikan sebagai penjaga martabat, cermin iman, dan simbol ketakwaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....