Meneladani Sikap Pemaaf Dari Para Sahabat Nabi Muhammad SAW
- 18 Apr 2025 08:18 WIB
- Purwokerto
KBRN, Banyumas : Tiada manusia yang luput dari yang namanya berbuat salah dan merasakan kecewa. Setiap ada emosi negatif yang meluap, akan ada pilihan bagi kita untuk dapat memaafkan.
Seseorang dengan sikap pemaaf memiliki keutamaan di sisi Allah Swt. Keutamaan tersebut ialah akan Allah cintai dan angkat derajatnya. Lebih dari itu, sikap pemaaf ini sudah banyak diterapkan oleh sahabat Nabi Muhammad Saw. Dan diteladani oleh manusia hingga waktu sekarang.
Dalam Dialog Religi Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, Ustadzah Sri Ningsih, S.Pd.M.Si bercerita mengenai kisah sahabat nabi yang sikapnya menjadi panutan untuk dapat kita contoh. Hal itu karena mereka memiliki tingkat kesabaran yang mengagumkan dalam menghadapi amarah serta kekecewaan di hidupnya.
Kisah pertama datang dari sahabat nabi bernama Anas bin Malik RA. Suatu hari ada tetangga yang memaki-makinya, masyarakat yang melihatnya pun banyak yang menyuruh Anas untuk membalasnya. Namun, Anas berkata jika ia membalas maka apa bedanya diri dia dengan tetangganya tersebut? “Rasul mengajariku untuk dapat berkata baik atau diam”, sahut Anas kala itu.
Kisah kedua datang dari cucu nabi bernama Hasan bin Ali yang didatangi oleh orang Syam yang menghina dirinya di depan umum. Hasan pun hanya diam lalu berkata dengan tenang, “jika kamu lapar, kita dapat memberimu makan sampai kenyang. Jika kamu butuh sesuatu, kita dapat memberimu pertolongan, dan jika kamu datang sebagai musuh, kita pun akan memaafkanmu”. Mendengar tanggapan Hasan, orang itupun menangis dan bersaksi bahwa ia adalah cucu rasul yang sejati.
Kisah ketiga datang dari seseorang yang dikatakan oleh rasul bahwa ia adalah orang yang bisa mendapat surga dengan tingkat yang sama seperti nabi & rasul kelak di akhirat nanti. Orang beruntung tersebut bernama Abu Zam-zam yang terkenal selalu memaafkan orang-orang sebelum tidur. Ia berusaha agar tidak membawa kebencian atau sakit hati apapun. Menurutnya, memaafkan itu bukan karena orang itu layak untuk dimaafkan, tetapi karena ia menghendaki rida dari Allah Swt. semata.
Mungkin bagi kita yang manusia biasa, memaafkan memang masih sulit untuk dapat dilakukan. Namun bukan berarti kita tidak dapat melakukannya.
Salah satu penghambat mengapa masih terasa sulit untuk dapat memaafkan seseorang atas kesalahannya, itu karena kita seringkali hanya fokus pada keluputan dan rasa kekecewaan tersebut. Padahal, ada banyak hal yang lebih baik untuk dapat kita perhatikan. Contohnya seperti mencari keridaan Allah Swt. ketika kita dizalimi oleh orang lain.
Salah satu tanda ketaqwaan hamba ialah mereka yang mampu memaafkan orang lain. Jangan sampai kita terlalu banyak memendam emosi negatif dan justru dapat merugikan diri sendiri. (Nur)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....