Soto Sekengkel Pak Jhon’s Bawa Cita Rasa Kuliner Banyumas ke RRI Fest 2026

  • 07 Sep 2026 09:13 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - RRI Fest 2026 menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam menyambut Hari Radio ke-81. Rangkaian RRI Fest menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari sosial, hiburan, hingga kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu (6/9/2026).

Kehadiran pelaku usaha menjadi bagian penting dalam RRI Fest karena tidak hanya menghadirkan produk untuk dinikmati masyarakat, tetapi juga membuka ruang bagi UMKM untuk memperkenalkan produk, memperluas jaringan, serta menjangkau konsumen yang lebih luas.

Salah satu UMKM yang turut hadir dalam RRI Fest adalah Soto Sekengkel Pak Jhon’s. Kuliner yang berasal dari Desa Karangrau, Banyumas, tersebut dibawa oleh Sugito sebagai penerus usaha keluarga yang telah berdiri sejak sekitar tahun 1990-an.

Soto Sekengkel Pak Jhon’s sendiri memiliki cerita panjang dalam mempertahankan identitas kulinernya. Usaha tersebut pada awalnya didirikan oleh ayah Sugito, Tarjono, yang dikenal dengan panggilan Jhon. Setelah sang ayah meninggal dunia, usaha tersebut kemudian diteruskan oleh anak-anaknya.

Sugito menjelaskan, nama Soto Sekengkel Pak Jhon’s juga tidak muncul begitu saja. Pada awalnya, usaha tersebut menggunakan nama Soto Banyumas. Namun, ayahnya kemudian mendapat masukan agar membuat identitas yang lebih khas sebagai kuliner Banyumas.

Nama sekengkel kemudian dipilih karena menjadi salah satu bagian utama dari sajian soto tersebut. Sekengkel merupakan bagian kaki sapi yang memiliki urat dan menjadi ciri khas dalam hidangan. Dalam perkembangannya, nama tersebut kemudian dipadukan dengan nama panggilan sang pendiri hingga menjadi Soto Sekengkel Pak Jhon’s.

“Awalnya bapak kasih nama sotonya itu Soto Banyumas. Lalu ada seorang yang mampir kaya camat lah dan menyarankan agar sotonya dibuat ciri khas yang unik. Terus bapak saya ingat, kakek saya suruh bapak saya untuk belikan sekengkel. Nah sekengkel itu dengkil sapi. Nama bapak saya kan Tarjono yang dipanggil Jhon, dipadukan dengan sekengkel yang jadi menu utama soto ini,” ujar Sugito.

Identitas tersebut tidak hanya terlihat dari penggunaan sekengkel sebagai bagian dari menu, tetapi juga dari cara penyajiannya. Jika beberapa jenis soto disajikan dengan berbagai pelengkap yang langsung dicampur, Soto Sekengkel Pak Jhon’s memberikan pilihan kepada konsumen untuk menentukan sendiri pelengkap yang diinginkan.

Kerupuk, kupat, sambal, dan pelengkap lainnya disajikan secara terpisah. Cara penyajian tersebut memberikan keleluasaan bagi pelanggan untuk menyesuaikan hidangan sesuai selera. Selain soto sekengkel dengan harga 25.000 sebagai menu utama, usaha ini juga menyediakan menu tambahan seperti bakso serta berbagai pilihan soto dengan variasi isian seperti (soto granat dan torpedo [pejantannya sapi]) dengan harga sekitar 30.000 cukup untuk 2-3 orang.

Seiring perkembangan usaha, Soto Sekengkel Pak Jhon’s tidak hanya bertahan di Banyumas. Usaha tersebut telah memiliki beberapa cabang, termasuk di Bali dan wilayah Jakarta, salah satunya Bekasi. Untuk cabang di Jakarta, pengelolaannya juga dibantu oleh kakak Sugito.

Soto Sekengkel Pak Jhon’s telah bekerja sama dengan sejumlah platform layanan pesan-antar makanan, seperti Gojek dan Grab, serta mulai menjalin kerja sama dengan Shopee.

Bagi Sugito, perjalanan usaha yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut tidak terjadi secara instan. Mempertahankan usaha kuliner membutuhkan proses, kesabaran, serta kemampuan untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Ya namanya orang jualan ya butuh waktu juga, ibaratnya nggak mungkin orang nanam nggak mungkin ujug-ujug langsung metik buah,” kata Sugito.

Keberadaan usaha yang telah berjalan sejak sekitar 1990-an menjadi modal untuk mempertahankan eksistensinya sekaligus mengenalkan cita rasa kuliner daerah kepada generasi dan konsumen yang lebih luas. Sugito juga aktif mengikuti berbagai kegiatan dan bazar sebagai salah satu cara memperkenalkan produknya kepada masyarakat.

Menurutnya, keikutsertaan dalam berbagai event dapat menjadi salah satu strategi agar produk tetap dikenal di tengah persaingan kuliner yang semakin beragam.

Kesempatan mengikuti RRI Fest sendiri diperoleh Sugito melalui keterlibatannya sebagai pengurus Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Banyumas (ASPIKMAS) UMKM di Banyumas. Ia mendapat tawaran langsung dari pihak RRI untuk berpartisipasi dalam RRI Fest.

“Ya karena namanya usaha ya, biar kerja sama lah, kolaborasi biar sana-sini menguntungkan, biar masyarakat tahu dan lebih mengenal, oh ini loh Soto Sekengkel,” ujar Sugito.

RRI Fest memberikan suasana yang berbeda dibandingkan aktivitas berjualan sehari-hari. Banyaknya kalangan masyarakat yang hadir membuat pelaku usaha memiliki ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun jaringan baru.

Bagi usaha yang telah bertahan selama puluhan tahun, mempertahankan identitas lokal sekaligus mengikuti perkembangan zaman menjadi bagian penting agar kuliner tersebut tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.

Sugito pun memberikan respons positif terhadap pelaksanaan RRI Fest. Menurutnya, kegiatan tersebut mampu mempertemukan berbagai kalangan UMKM dan memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang melalui jaringan yang lebih luas.

“Sangat senang, sukses lah. Ibaratnya RRI bisa menggandeng UMKM dari kalangan menengah ke atas sampai yang bawah,” kesan Sugito.

Lebih jauh, Sugito berharap kolaborasi antara RRI dan pelaku UMKM dapat terus berlanjut.

“Saya harap RRI selalu bisa kolaborasi sama UMKM Indonesia, terutama Banyumas, biar bisa bagi-bagi rezekinya buat UMKM dan RRI tetap jaya dan sukses selalu,” pesan Sugito.

Kehadiran Soto Sekengkel Pak Jhon’s di RRI Fest menunjukkan bahwa festival bukan hanya menjadi ruang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga dapat menjadi wadah bagi UMKM untuk memperkenalkan produk dan identitas lokal. Bagi Soto Sekengkel Pak Jhon’s, RRI Fest menjadi kesempatan untuk membawa cita rasa kuliner Banyumas lebih dekat kepada masyarakat sekaligus memperluas jaringan usaha yang telah dibangun selama puluhan tahun. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....