Kesehatan Mental untuk Kaum Muda: Kunci menuju Generasi Emas 2045
- 07 Okt 2026 09:49 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Fenomena keresahan mengenai kesehatan mental kini mulai dirasakan oleh anak muda. Kesehatan mental menjadi salah satu perhatian yang dampaknya dapat membawa banyak perubahan pada kepribadian anak muda. Melalui segmen obrolan kesehatan RRI Purwokerto bersama IKAPSI UNDIP (Ikatan Alumni Psikologi Universitas Diponegoro) akan membahas mengenai keseahatan mental anak muda.
Dalam Obrolan Kesehatan Pro 2 RRI Purwokerto menghadirkan Diyah Woro Dwi Lestari , S.Psi, M.A selaku Dosen Psikologi Fakultas Kesehatan Unsoed, Indraswari Nur Imaniati, S.Psi., M.A. selaku Analis Tenaga Kerja Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Kabupaten Banyumas dan Ayu Kurnia Sari, S.Psi., M.Psi selaku Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Purwokerto. Kesehatan mental merupakan masalah yang hadir di tengah-tengah kehidupan anak muda. Pengekspresian perasaan merupakan salah satu bentuk dari pengelolaan mental, anak muda memanfaatkan media sosial sebagai ruang untuk mengekspresikan perasaannya.
“Jadi orang yang sehat mental itu yang meskipun dia ngerasain sedih, ngerasain cemas, ngerasain galau dia udah tau tuh dia ngerasain apa dan dia harus ngapain gitu,” jelas Ayu Kurnia.
Seseorang yang memiliki kesehatan mental lebih fokus kepada cara mengadaptasi diri dengan lingkungan. Hati gembira setiap saat belum tentu menunjukan tanda seseorang sehat mental, sedih setiap saat juga bukan merupakan ciri kesehatan mental, seseorang yang memiliki mental sehat biasanya akan lebih mudah beradaptasi dan dapat menyesuaikan. Fokus dalam kesehatan mental ini adalah, apabila seseorang merasakan sedih, kesedihan tersebut tidak berlarut-larut dan dapat mengembalikan dirinya menjadi yang lebih positif.
Paparan sosial media pada anak muda menjadi salah satu faktor gangguan kesehatan mental. Melalui sosial media konten-konten yang ada dijadikan sebagai standar dan perbandingan. Hal tersebut menimbulkan kecemasan bagi anak muda dan mulai membandingkan pencapaiannya dengan pencapaian oranglain.
”Berawal dari dia harus memahami diri dia dulu gitu. Kemudian ketika dia sudah memahami diri dia. Maka dia akan bisa berpikir,” lanjut Ayu Kurnia.
Faktor masalah kesehatan mental tidak dapat dianalisis melalui satu sumber, masalah kesehatan mental itu multifaktorial artinya banyak sumbernya, dari keluarga, diri sendiri, lingkungan sosial atau relasi sosial seseorang dengan teman-temannya. Sehingga untuk meminimsir adanya gangguang kesehatan mental dapat dimulai dari memahami diri sendiri. Kemampuan memahami diri sendiri atau self esteem akan mempermudah seseorang dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.
Memahami kondisi diri sendiri dan kebutuhan ketika telah mengalami perubahan terhadap diri sendiri. Meluapkan atau mengeluarkan keluh kesah kepada orang yang terpercaya juga dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk meredakan adanya gangguan kesehatan mental. Perbanyak aktivitas untuk mendukung produktivitas seperti menjalankan hobi. Apabila beberapa upaya tersebut tidak bekerja, maka dapat menghubungi pihak yang profesional.
Salah satu hal yang dapat dilakukan ketika terdapat perubahan diri dan terdapat tanda-tanda gangguan kesehatan mental adalah dengan berinteraksi. Interaksi tidak selalu dengan manusia, bisa dilakukan dengan hewan, dengan cara tersebut seseorang akan merasa terhubung dengan oranglain. Keluarga dapat menjadi alternatif berinteraksi, menurut riset terbuka dengan keluarga merupakan salah satu obat dan support system.
Media sosial memiliki dua sisi, menjadi media informasi dan dapat menjadi penyebab dari peningkatan tekanan sosial. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), munculnya ketakutan seseorang akan ketertinggalan trend-trend pada media sosial menjadi sinyal kurang positif bagi generasi muda. Cyber bullying atau kata-kata tidak pantas yang dikatakan dalam media sosial juga menimbulkan berbagai perasaan tekanan dan perasaan menyakitkan bagi seseorang. Melalui segmen ini terdapat sesi tanya jawab untuk pendengan radio RRI Purwokerto.
“Mau tanya Kak solusi kalau sering overthinking pas malam tuh gimana ya?” tanya Ruluna, pendengar Pro 2.
Melalui pertanyaan tersebut Indraswari menjelaskan bahwa overthinking sebenarnya kekhawatiran di masa depan atau masa lalu yang belum tentu terjadi. Jadi jika malam-malam overthinking berarti perlu ada yang diurai. Caranya pertama uraikan dengan menulis, seseorang dapat menuliskan apa saja yang menjadi bahan overthinking. Kedua beri waktu untuk overthinking, namun batasi dengan waktu10 sampai 15 menit untuk memikirkan sesuatu. Ketiga atur nafas dengan menarik nafas untuk belajar mindfulness. Keempat jauhin handphone karena terdapat sinar yang membuat seseorang mudah terbangun. Kelima jauhi minum-minuman berkafein agar tidak mengganggu waktu tidur dan overthinking. Apabila cara tersebut belum mengurangi rasa overthinking seseorang, dapat datang dan konsultasi dengan pihak yang profesional seperti psikolog. (Dini)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....