Kemarau Kering di Banyumas Raya Picu Risiko ISPA, Masyarakat Diminta Waspadai Debu
- 15 Agt 2026 10:09 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Musim kemarau di wilayah Banyumas Raya tahun ini datang lebih awal dan cenderung lebih kering. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan sejumlah dampak, mulai dari kekeringan, kebakaran lahan, hingga penurunan kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi Stasiun Meteorologi Kelas II Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan musim kemarau di wilayah Banyumas Raya tahun ini memiliki sejumlah karakteristik.
Menurutnya, musim kemarau datang relatif lebih awal dibandingkan kondisi normal. Jika biasanya kemarau mulai dirasakan pada Juni, sejumlah wilayah Banyumas Raya sudah memasuki musim kemarau sejak Mei.
Selain datang lebih awal, kemarau tahun ini juga cenderung lebih kering karena curah hujan berada di bawah normal. Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Niño yang turut mengurangi potensi curah hujan di wilayah Banyumas Raya.
"Musim kemarau di wilayah Banyumas datang relatif lebih awal. Biasanya bulan Juni, tetapi tahun ini sejak Mei sudah ada yang masuk musim kemarau. Kemudian sifatnya cenderung lebih kering karena curah hujan di musim kemarau ini di bawah normal," ujar Teguh.
Teguh menjelaskan, puncak musim kemarau di wilayah Banyumas diperkirakan terjadi pada Agustus. Durasi musim kemarau secara keseluruhan diperkirakan berlangsung sekitar 3,5 hingga 4 bulan.
Bahkan, berdasarkan pemantauan BMKG, sejumlah wilayah di Banyumas Raya telah mengalami hari tanpa hujan selama 31 hingga 60 hari. Di wilayah Cilongok, periode tanpa hujan bahkan tercatat lebih dari 60 hari sehingga masuk kategori kekeringan ekstrem.
Debu Berpotensi Tingkatkan Risiko ISPA
Kondisi kemarau yang panjang dan kering turut berdampak terhadap kualitas udara. Minimnya curah hujan membuat debu dan partikel di permukaan tanah tidak tercuci secara alami oleh air hujan.
Saat hujan turun, air berfungsi seperti "mencuci" atmosfer dengan membantu membawa partikel debu dari udara dan permukaan. Namun, ketika hujan jarang terjadi, partikel debu lebih mudah bertahan dan melayang di udara.
"Karena tidak ada hujan, debu masih melayang-layang di udara sekitar. Ini cenderung meningkatkan kondisi lingkungan yang tidak bagus untuk kesehatan, terutama untuk ISPA," jelas Teguh.
Selain minimnya curah hujan, kelembapan udara yang rendah membuat permukaan tanah semakin kering. Kondisi tersebut menyebabkan partikel tanah lebih mudah terlepas dan menjadi debu ketika tertiup angin.
Angin juga berperan dalam menyebarkan debu ke berbagai wilayah. Akumulasi kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas udara dan meningkatkan paparan masyarakat terhadap partikel debu.
Waspadai Kekeringan dan Kebakaran Lahan
Selain risiko terhadap kesehatan, kemarau kering juga meningkatkan potensi kekurangan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian.
Masyarakat juga perlu mewaspadai potensi kebakaran lahan. Rendahnya kelembapan udara dan kondisi vegetasi serta tanah yang kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama puncak musim kemarau, terutama di wilayah yang telah mengalami periode tanpa hujan cukup panjang.
Perbedaan suhu yang cukup terasa antara siang dan malam juga perlu diperhatikan. Suhu pada siang hari dapat terasa panas, sementara pada malam hari cenderung lebih dingin. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan tubuh beradaptasi terhadap perubahan suhu.
Masyarakat diimbau menjaga kesehatan dan mengurangi paparan debu, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan pelindung seperti masker ketika kondisi udara berdebu juga dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan partikel di saluran pernapasan.
Dengan puncak musim kemarau yang berlangsung pada Agustus, kewaspadaan masyarakat Banyumas Raya terhadap kekeringan, kebakaran lahan, kualitas udara, dan risiko gangguan kesehatan perlu terus ditingkatkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....