Mahasiswa KKN UIN Saizu Kolaborasi Edukasi Smart Parenting

  • 08 Agt 2026 09:40 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Kebumen – Upaya mencegah stunting tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan gizi anak. Pola asuh dan komunikasi orang tua juga menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Edukasi Smart Parenting dan Gizi Seimbang yang digelar mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Kelompok 99 di Balai Desa Bonosari, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan lintas kampus ini melibatkan mahasiswa dari UIN Saizu Purwokerto, UIN Bandung, UIN Gusdur Pekalongan, dan Universitas Annuqayah Madura.

Program tersebut dilaksanakan bersama Posyandu dan Puskesmas Sempor 2 sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stunting sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pagi. Selain edukasi mengenai pola asuh dan gizi seimbang, kegiatan diisi dengan senam lansia, pemeriksaan kesehatan, kelas balita, serta sosialisasi kesehatan kepada masyarakat.

Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN dari UIN Saizu Purwokerto, Pija, mengatakan pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Menurutnya, pemenuhan gizi perlu berjalan beriringan dengan pembenahan pola asuh orang tua.

“Pencegahan stunting itu tidak melulu soal makanan, tetapi juga mengenai parenting atau pola asuh dari orang tua yang sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak di masa golden age. Kami ingin memperkuat edukasi parenting kepada warga, khususnya ibu-ibu balita di Bonosari,” ujar Pija.

Dalam edukasi tersebut, mahasiswa menekankan pentingnya membangun ikatan emosional dan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Orang tua juga diingatkan untuk menghindari kebiasaan membentak atau membandingkan anak karena dapat memengaruhi perkembangan mental dan emosional.

Sementara itu, Kepala Desa Bonosari, Sugeng Suyanto, mengungkapkan bahwa penanganan stunting di wilayahnya masih menghadapi sejumlah tantangan. Meski berbagai upaya telah dilakukan, angka stunting di desa tersebut masih mengalami fluktuasi.

“Masalah stunting memang di Desa Bonosari telah diatasi, namun karena faktor air atau hal lain, angka stunting kadang turun dan kadang naik,” kata Sugeng.

Menurut Sugeng, penanganan stunting membutuhkan edukasi keluarga yang dilakukan secara berkelanjutan. Karena itu, ia mengapresiasi kegiatan KKN Kolaborasi yang dinilai turut memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya pola asuh, pemenuhan gizi, serta kesehatan lingkungan.

Ia berharap kegiatan edukasi semacam ini dapat mendorong para orang tua untuk lebih konsisten memperhatikan tumbuh kembang anak, memenuhi kebutuhan gizi seimbang, menjaga kebersihan lingkungan, dan aktif memanfaatkan layanan Posyandu.

“Saya berharap semoga orang tua semakin paham mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang dan pola atau cara asuh yang baik pada anak di desa, memperhatikan kebersihan lingkungan, dan rajin ke Posyandu,” pungkas Sugeng Suyanto.(Vera Purmadani Fitria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....