Tips Kelola Emosi dengan Cerdas

  • 30 Jun 2026 08:17 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Kemampuan mengelola emosi secara bijak menjadi indikator penting dalam menjaga kesehatan mental dan stabilitas sosial seseorang. Namun, kekeliruan dalam merespons perasaan negatif seperti marah, sedih, atau kecewa seringkali justru memicu dampak buruk bagi fisik maupun psikologis.

Dalam dialog Ruang Psikologi Pro 1 FM RRI Purwokerto yang disiarkan pada Senin, 22 Juni 2026, pakar psikologi Imam Faisal Hamzah S.Psi., M.A., meluruskan persepsi keliru masyarakat yang kerap mengartikan emosi hanya sebagai luapan amarah atau perasaan negatif. Menurutnya, emosi merupakan anugerah yang berfungsi sebagai sistem peringatan dini (warning system) agar manusia dapat bertahan hidup.

"Emosi itu kayak kudanya, dia bisa membantu mengarahkan kita ke sebuah tempat, tapi kalau misalnya kita tidak mengendalikan itu, ya maka kita sendiri yang akan kesusahan," ujar Imam. Ia menegaskan bahwa kemampuan kognitif berpikir untuk mengendalikan emosi inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya.

Lebih lanjut, Imam memaparkan bahwa memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi tidak menjamin seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik. Untuk membangun kecerdasan emosional, langkah paling mendasar yang harus dilakukan adalah melabeli atau mengenali emosi itu sendiri secara jujur, kemudian menerimanya tanpa ada penolakan.

"Kita sebaiknya jujur pada diri kita, kita saat ini sedang bagaimana perasaannya, kalau ternyata kita sedang sedih, ya akui saja, sering kali kita tahu bahwa kita sedih tapi kemudian kita menolaknya," ungka Imam. Terkait fenomena memendam emosi yang sering dilakukan banyak orang, Imam menganalogikan emosi layaknya aliran air di sebuah bendungan.

Menahan emosi secara terus-menerus tanpa adanya saluran pelepasan yang sehat justru akan merusak "bendungan" atau diri manusia itu sendiri, baik secara fisik maupun psikis. Orang yang cerdas secara emosional bukanlah orang yang suka menahan emosinya, melainkan mereka yang mampu mengekspresikannya secara bijak, tepat, dan sehat seperti melalui olahraga, journaling, ataupun karya seni.

Dalam hal menurunkan tensi emosi yang tinggi, ia juga membenarkan efektivitas metode relaksasi, pengaturan napas (breathing), maupun pendekatan spiritual seperti mengucap istighfar. Metode-metode tersebut berfungsi mereduksi luapan perasaan agar pikiran kembali jernih sebelum mencari pemecahan masalah (problem solving).

Sebagai penutup, Imam mengajak masyarakat untuk melakukan reframing atau pembingkaian ulang cara pandang saat emosi melanda. "Kalau kita sedang sedih, coba untuk memikirkan sebuah harapan di masa depan, kalau kita sedang marah, kita coba untuk memikirkan gimana rasanya orang yang sedang dimarahi," pungkas Imam.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....