Tak Hanya Lingkungan, Krisis Iklim Kini Ancam Kesehatan Mental

  • 26 Jun 2026 15:53 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Perubahan dan krisis iklim global ternyata tidak hanya merusak ekosistem fisik dan memicu kerugian ekonomi, melainkan juga berdampak serius pada ranah psikologis serta kesehatan mental manusia. Hal itu diungkapkan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Uswatun Hasanah, S.Psi., M.A., dalam Program Jaga Malam Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto, Selasa (23/06/26).

Fenomena gangguan psikologis baru ini mulai banyak diteliti akibat perubahan iklim, salah satunya dikenal dengan istilah eco-anxiety. Uswatun menegaskan, kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan masa depan ini adalah anak-anak muda dan kaum perempuan.

"Krisis iklim itu masuk pada ranah krisis psikologis dan kemanusiaan. Dalam literatur psikologi, eco-anxiety ini kondisi di mana kita takut, khawatir terus-menerus karena lingkungannya rusak," ujarnya.

Selain kecemasan, krisis lingkungan juga memicu eco-grief (kesedihan ekologis) dan solastalgia. Eco-grief (kesedihan ekologis) merupakan perasaan terasing atau sedih mendalam karena tempat tinggal mereka telah berubah drastis akibat kerusakan alam, polusi, hingga bencana hidrometeorologi yang terjadi bertahun-tahun.

Meski demikian, Uswatun menyebut bahwa rasa cemas terhadap kondisi bumi ini sebenarnya merupakan respon emosional yang wajar dan sehat karena menandakan adanya empati serta kepedulian. Namun, kecemasan tersebut harus dikelola dengan baik dan diubah menjadi eco-resilience (ketahanan ekologis) agar tidak berujung pada keputusasaan atau depresi.

Sebagai langkah mitigasi psikologis awal, ia menyarankan masyarakat untuk menerapkan eco-therapy secara mandiri, seperti melakukan terapi pembumian (grounding) hingga berinteraksi langsung dengan alam untuk merilis stres. Selain itu, aksi nyata pro-iklim yang kolektif juga dinilai sangat membantu pemulihan mental.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....