Dokter Spesialis Anak Paparkan Cara Cegah Alergi

  • 26 Jun 2026 14:21 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Penyakit alergi sering kali dianggap remeh dan dinilai sebagai masalah kesehatan biasa oleh sebagian besar orang tua. Padahal, jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat, alergi dapat mengganggu aktivitas harian, kualitas tidur, proses belajar, hingga tumbuh kembang optimal seorang anak.

Dalam siaran Dialog Kesehatan hadir sebagai narasumber, pada Selasa, (23/6/2026), Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Ummu Hani Purbalingga, dr. Muarif, M.Med.,Sc., Sp.A., meluruskan definisi medis dari alergi. Alergi merupakan bentuk reaksi hipersensitif yang dimediasi oleh sistem kekebalan tubuh seseorang terhadap substansi atau zat asing tertentu (alergen), yang pada orang normal tidak akan menimbulkan reaksi apa pun.

"Alergi itu adalah suatu reaksi yang sifatnya itu berlebihan pada sesuatu substansi atau zat yang disebut sebagai alergen. Reaksinya sangat individual sekali," kata dr. Muarif.

Faktor keturunan atau riwayat alergi pada keluarga (ayah, ibu, atau saudara kandung) memegang peranan besar dalam meningkatkan risiko alergi pada anak, meskipun potensi tersebut tetap ada pada keluarga tanpa riwayat. Lebih lanjut, dr. Muarif memaparkan bahwa gejala alergi pada anak sangat bervariasi tergantung pada jalurnya.

Pada bayi di bawah usia 6 bulan, jenis yang paling sering dijumpai adalah alergi protein susu sapi yang bermanifestasi pada saluran pencernaan, dengan gejala mual, muntah, diare, hingga ruam merah pada kulit. Sementara itu, pada anak usia prasekolah (3 tahun ke atas) yang sudah aktif berinteraksi dengan lingkungan luar, alergi lebih sering dipicu oleh paparan udara dingin, debu, atau serbuk bunga yang menyerang saluran pernapasan seperti rinitis alergi dan asma.

Kunci utama dalam memastikan diagnosis alergi adalah adanya pola kronologis yang konsisten antara paparan pencetus dengan kemunculan gejala. Dokter Muarif juga mengimbau para orang tua untuk waspada terhadap tanda bahaya (red flags) akibat reaksi alergi berat yang disebut anafilaktik.

Jika anak menunjukkan gejala sesak nafas, wajah pucat, lemas, hingga penurunan kesadaran, anak harus segera dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah Sakit terdekat. Namun, untuk reaksi ringan seperti biduran atau kaligata, orang tua cukup melakukan pengawasan dan memberikan penanganan awal.

Terkait pengobatan, ia menegaskan bahwa obat-obatan alergi yang beredar di pasaran saat ini hanya berfungsi untuk meringankan gejala yang muncul. Obat tersebut tidak dapat menyembuhkan alergi secara total.

Menurutnya, penanganan jangka panjang yang paling efektif adalah dengan tindakan pencegahan (avoidance), yakni menjauhkan anak dari zat yang memicu alergi. Pada kasus alergi susu sapi ringan, tren medis saat ini mulai melonggarkan pantangan mutlak dengan mengenalkan susu formula yang mengandung partially hydrolyzed (hidrolisis parsial) di bawah pengawasan ketat dokter anak untuk membantu memicu toleransi tubuh secara bertahap.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....