Jangan Ngotot Self Diagnosis, Bisa Perparah Sakit

  • 22 Jun 2026 15:17 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan diagnosis mandiri atau self diagnosis terkait kondisi kesehatan hanya berdasarkan informasi dari internet maupun kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Tindakan menduga-duga penyakit tanpa konfirmasi medis dinilai sangat berbahaya karena berpotensi memicu salah penanganan, memperparah kondisi sakit, hingga menyebabkan gangguan kecemasan atau stres bagi pasien itu sendiri.

dr. Arfelina Sugiarto, MD, memaparkan dalam program siaran Jaga Malam Pro 2 FM Purwokerto, pada Senin, (15/6/2026). Ia menjelaskan bahwa penegakan diagnosis suatu penyakit merupakan proses klinis yang panjang dan rumit yang memerlukan kompetensi medis, mulai dari wawancara riwayat kesehatan (anamnesis), pemeriksaan fisik secara langsung, hingga tes laboratorium.

"Background medis itu luas. Kalau kita mau mendiagnosa satu pasien, kita harus melihat dari historisnya, riwayat keluarganya, raut muka, postur, bahkan cara jalannya. Kita juga belajar fisiologi, yaitu kerja organ normalnya, untuk tahu saat kerjanya sudah tidak sesuai," ujar dr. Arfelina.

Menurut dr. Arfelina, salah satu dampak paling fatal dari self diagnosis di era digital adalah munculnya sikap keras kepala dari pasien yang merasa paling tahu tentang penyakitnya karena telah membaca artikel internet. Ia menceritakan pengalamannya menangani pasien komplikasi yang tidak puas dengan diagnosis dokter, lalu mencari opini ke dokter lain, dan nekat mencampur sendiri resep-resep obat yang diterimanya (koktail obat) yang mengakibatkan kondisi pasien tersebut justru semakin memburuk dan memerlukan penanganan rapat tim dokter spesialis serta profesor yang memakan biaya jauh lebih mahal.

Terkait maraknya penggunaan aplikasi konsultasi kesehatan virtual berbasis chat yang populer saat ini, dr. Alvelina tidak melarangnya untuk penanganan gejala ringan dan situasi darurat. Namun, ia memberikan batasan tegas agar pasien tetap waspada.

"Resikonya ada di pasien karena pengobatan virtual tidak bisa melakukan pemeriksaan fisik langsung, seperti meraba perut atau mendengar suara dada dengan stetoskop. Jika dalam 7 hari gejala tidak membaik setelah minum obat, itu saatnya harus segera menemui dokter riil yang nyata," tuturnya.

Di akhir sesi obrolan edukatif tersebut, dr. Arfelina Sugiarto, MD menekankan bahwa berselancar di internet atau menggunakan AI untuk mencari tahu informasi kesehatan seputar tubuh sebenarnya merupakan hal yang positif sebagai bentuk kepedulian diri. Kendati demikian, masyarakat diminta agar selalu memperhatikan kredibilitas sumber informasi seperti jurnal penelitian resmi, tidak menelan mentah-mentah hasil AI, serta menyerahkan keputusan akhir kepada ahlinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....