Ancaman Virus Tikus Perlu Diwaspadai, Dinkes Banyumas: Hantavirus Belum Ditemukan

  • 01 Jun 2026 10:59 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Keberadaan tikus di lingkungan permukiman menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat. Selain dikenal sebagai pembawa penyakit leptospirosis, tikus juga berpotensi menjadi perantara penyebaran hantavirus, meski hingga kini kasusnya belum ditemukan di Kabupaten Banyumas.

Tim Kerja Penyakit Menular Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes dan KB) Kabupaten Banyumas, Arief Burhanudin, mengatakan tikus merupakan hewan yang hidup berdampingan dengan manusia dan hampir ditemukan di berbagai lingkungan, baik perkotaan maupun pedesaan.

“Potensi penularan penyakit dari tikus memang cukup besar, apalagi jika lingkungan sekitar mendukung keberadaan tikus dan terdapat bibit penyakit,” ujarnya.

Menurut Arief, penyakit yang saat ini sudah ditemukan di Banyumas dan ditularkan oleh tikus adalah leptospirosis, dengan jumlah kasus yang masih cukup banyak di sejumlah wilayah. Sementara untuk hantavirus, hingga kini belum ada laporan kasus di Kabupaten Banyumas.

“Hantavirus memang sampai saat ini belum terlaporkan di Banyumas,” katanya.

Meski demikian, masyarakat diminta tetap mengenali gejala awal penyakit tersebut sebagai langkah antisipasi. Arief menjelaskan, gejala hantavirus secara umum menyerupai penyakit influenza, seperti demam, menggigil, dan kondisi badan yang melemah, terutama jika sebelumnya memiliki riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi.

Namun ia mengingatkan masyarakat agar tidak langsung panik jika mengalami gejala tersebut. “Kalau habis ketemu tikus lalu demam, jangan langsung menyimpulkan terkena hantavirus. Untuk memastikan perlu pemeriksaan laboratorium atau PCR,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Banyumas terus mengedukasi masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Salah satunya dengan mempertahankan kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang sempat masif diterapkan saat pandemi Covid-19.

Selain itu, masyarakat juga diminta meminimalkan akses tikus masuk ke rumah dengan menutup lubang-lubang, saluran air, maupun celah di sekitar bangunan. “Jalan masuk tikus di rumah perlu ditutup serapat mungkin, termasuk got, pralon, dan lubang-lubang lainnya,” ucap Arief.

Kebersihan lingkungan juga menjadi faktor penting dalam menekan populasi tikus. Warga diimbau menyimpan makanan dengan baik dan memastikan sampah rumah tangga tidak menumpuk serta berada di tempat tertutup.

Di Banyumas, kasus penyakit yang berkaitan dengan tikus seperti leptospirosis tercatat cukup banyak ditemukan di wilayah Cilongok, Sumpiuh, Kemranjen, hingga Somagede. Arief menambahkan, tingginya mobilitas masyarakat saat ini juga meningkatkan risiko perpindahan bibit penyakit dari berbagai daerah bahkan antarnegara.

Oleh karena itu, kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan. Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan masker saat membersihkan rumah atau area berdebu yang berpotensi terpapar kotoran tikus.

“Kalau menyapu rumah atau membersihkan area tertentu, sebaiknya memakai masker. Selain mencegah debu, juga membantu mengurangi risiko penularan penyakit,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....