Gejala Hantavirus, Demam hingga Gangguan Pernapasan Berat
- 15 Mei 2026 08:27 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Ahli Epidemiologi Lapangan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dr. Yudhi Wibowo, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai hantavirus karena penyakit tersebut dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat dengan tingkat kematian cukup tinggi.
Ia menjelaskan, gejala awal penderita hantavirus umumnya berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga mual dan muntah. Namun pada kondisi tertentu, penyakit dapat berkembang menjadi lebih serius.
Menurut Yudhi, terdapat tipe hantavirus yang menyerang ginjal dan disertai gejala perdarahan serta gagal ginjal. Selain itu, ada pula tipe hantavirus yang menyerang sistem pernapasan atau paru-paru.
“Pada tipe pulmonal biasanya penderita mengalami sesak napas berat, paru-paru bengkak atau edema, bahkan sampai syok,” katanya.
Ia menyebutkan, case fatality rate atau tingkat kematian pada hantavirus dengan gejala pernapasan dapat mencapai 30 hingga 50 persen.
Meski demikian, ia menegaskan penularan hantavirus antarmanusia sangat jarang terjadi. Penularan lebih banyak berasal dari paparan aerosol ekskreta tikus, kontak langsung dengan benda terkontaminasi, maupun makanan yang tercemar virus.
Yudhi menjelaskan, virus ini termasuk famili hantaviridae dengan tipe RNA. Beberapa jenis hantavirus yang dikenal yakni Hantaan virus, Seoul virus, Puumala virus, dan Sin Nombre virus. Sementara di Indonesia, virus yang ditemukan pada tikus domestik adalah tipe Seoul virus.
Hingga kini, lanjutnya, belum tersedia obat khusus maupun vaksin untuk hantavirus. Penanganan medis yang diberikan masih bersifat suportif atau berdasarkan gejala yang muncul pada pasien.
“Kalau pasien demam ya diberikan obat penurun panas. Jadi pengobatan masih berdasarkan gejalanya,” ujarnya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus untuk menekan risiko penularan penyakit tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....