Sering Begadang? Waspadai Dampak 'Utang Tidur' yang Bisa Merusak Otak hingga Jantung

  • 21 Apr 2026 18:35 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Menambah waktu terjaga di malam hari untuk menyelesaikan tugas atau sekadar mencari hiburan sering dianggap sebagai cara "mencuri waktu." Namun, tubuh manusia bekerja berdasarkan ritme sirkadian yang diatur oleh suprachiasmatic nucleus (SCN) di otak. Ketika ritme ini dilanggar melalui kebiasaan begadang, dampaknya tidak sekadar rasa kantuk, melainkan kerusakan pada level gen, molekul, hingga jaringan tubuh.

Menurut artikel yang dikutip dalam laman resmi Kementrian Kesehatan RI disebutkan salah seorang dokter riset sekaligus dosen FKIK Unismuh Makassar, Dr. Dito Anurogo, MSc., PhD., menjelaskan bahwa kurang tidur adalah ancaman serius yang sering kali tidak disadari gejalanya secara langsung. Berikut adalah beberapa risiko utama yang mengintai para "pejuang malam":

1. Otak: Emosi Meledak dan Penumpukan 'Sampah' Metabolik.

Kurang tidur melemahkan korteks prefrontal yang berfungsi mengontrol fokus dan emosi, sementara amigdala (pusat emosi) menjadi lebih reaktif. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sensitif dan mudah marah. Selain itu, sistem glimfatik—jalur pembuangan sampah di otak—terhenti, sehingga protein berbahaya seperti beta-amiloid (terkait Alzheimer) lebih mudah menumpuk.

2. Gangguan Hormon: Cepat Lapar dan Risiko Diabetes.

Begadang mengacaukan hormon pengatur nafsu makan. Hormon Ghrelin (pemicu lapar) meningkat, sementara Leptin (pemberi sinyal kenyang) menurun. Kondisi ini diperparah dengan penurunan sensitivitas insulin, yang jika terjadi secara kronis, dapat memicu diabetes tipe 2.

3. 'Benteng' Imun Retak dan Ancaman Jantung.

Saat tidur, tubuh memproduksi sitokin untuk melawan infeksi. Kurang tidur menurunkan sistem pertahanan ini dan memicu peradangan sistemik. Di sisi lain, jantung kehilangan waktu istirahat alaminya (nocturnal dipping), meningkatkan risiko hipertensi, serangan jantung, hingga stroke.

4. Bahaya 'Microsleep' yang Setara dengan Mabuk.

Secara fungsional, otak yang kurang tidur berada dalam kondisi "keracunan lelah." Hal ini memicu microsleep—episode tidur singkat beberapa detik tanpa disadari. Di jalan raya atau tempat kerja, hal ini sangat fatal karena menurunkan waktu reaksi dan kualitas keputusan, serupa dengan kondisi orang yang sedang mabuk.

5. Teknologi sebagai Pisau Bermata Dua.

Paparan cahaya biru (blue light) dari gawai menekan produksi melatonin, hormon yang membantu pemulihan tubuh. Namun, Dr. Dito menekankan bahwa teknologi seperti perangkat wearable atau AI juga bisa menjadi solusi untuk memantau pola tidur dan memberikan rekomendasi personal agar seseorang kembali ke ritme sehat.

Dibagian akhir artikel ini disebutkan Dr. Dito mengingatkan bahwa tidur di akhir pekan tidak bisa sepenuhnya "melunasi" utang tidur selama hari kerja. Konsistensi ritme tidur adalah kunci utama.

"Tidur bukan kemewahan, melainkan fondasi. Memilih tidur yang cukup adalah bentuk kecerdasan untuk melindungi otak, jantung, dan sistem imun Anda," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....