Penurunan Angka Prevalensi Stunting Berbasis Gender dan Inklusi
- 09 Apr 2026 09:20 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan tidak sesuai dengan standar usia. Hal ini menjadi fokus utama pemerintah Indonesia dengan target penurunan prevalensi yang signifikan hingga mencapai angka 14% pada tahun 2029 mendatang.
Dra. Oti Kusumaningsih, M.Si hadir dalam dialog Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto yang menjelaskan bahwa faktor penyebab stunting sangatlah kompleks, mulai dari asupan gizi yang buruk hingga praktik pernikahan dini. Tidak hanya itu, sanitasi yang rendah dan kurangnya literasi mengenai pola asuh di tingkat keluarga juga menjadi pemicu utama tingginya angka stunting di wilayah seperti Banyumas.
“Pemerintah melalui Peraturan Presiden No 72 tahun 2023 merumuskan ada lima pilar utama dalam penanganan stunting, yaitu komitmen, mandiri, konvergensi, intervensi kemudian perlu akselerasi agar target nasional ini bisa tercapai,” tuturnya.
Dalam upaya penanganan, perguruan tinggi menerapkan strategi berbasis gender dan inklusi untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat mendapatlan akses kesehatan yang setara. Pendekat ini melibatkan peran aktif sebagai, Bapak Siaga Stunting” guna mengubah stigma bahwa pengasuhan anak hanya merupakan tanggung jawab domestik ibu semata.
Sebagai langkah keberlanjutan, perguruan tinggi terus bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pihak swasta untuk menciptakan kemandirian pangan di tingkat desa. Melalui edukasi secara konsisten dan pemanfataan potensi lokal, diharapkan Generasi Emas Indonesia dapat terbebas dari ancaman stunting secara menyeluruh. (Khofifah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....