Suspek Campak di Purwokerto Timur Alami Peningkatan

  • 01 Apr 2026 08:08 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Puskesmas Purwokerto Timur II, Kabupaten Banyumas, mencatat adanya peningkatan penemuan kasus suspek campak selama periode Januari hingga Maret 2026. Meski demikian, seluruh kasus yang ditemukan dipastikan negatif setelah melalui pemeriksaan laboratorium.

Epidemiolog Kesehatan Puskesmas Purwokerto Timur II, Sri Astuti, mengatakan bahwa dari Januari hingga Maret ini tercatat sebanyak delapan kasus suspek campak. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatat enam kasus dalam satu tahun.

“Dari Puskesmas Purwokerto Timur II ini, dari Januari ke Maret ini ada beberapa peningkatan penemuan kasus suspek campak. Kalau dari tahun yang lalu itu 6 kasus 1 tahun, kalau sekarang baru sampai bulan Maret sudah 8 kasus suspek campak. Cuma memang dari 8 itu setelah dicek di laboratorium itu hasilnya negatif campak, ujar Sri Astuti saat diwawancarai RRI Purwokerto pada Selasa (31/03/2026).

Kasus-kasus tersebut berasal dari beberapa wilayah Puskesmas Purwokerto Timur II, di antaranya Kelurahan Kranji, Sokanegara, dan Purwokerto Lor. Dengan adanya peningkatan suspek, Astuti mengatakan masyarakat terlihat lebih kooperatif apabila terdapat gejala awal campak.

“Sudah kooperatif ya untuk ketika ada demam ruam diambil darahnya itu bersedia, seperti itu. Karena kan kadang ada yang balita kayak gitu kan nangis-nangis ya kalau diambil darahnya, itu dari orang tua tetap kooperatif untuk sampai diambil sampel darahnya kayak gitu,” ucap Astuti.

Puskesmas juga terus melakukan upaya edukasi kepada masyarakat, salah satunya melalui pertemuan kader kesehatan di posyandu. Dalam kegiatan tersebut, puskesmas berkoordinasi dengan kader kesehatan agar masyarakat diberikan pemahaman mengenai gejala campak, potensi penularan, serta pentingnya pemeriksaan dini.

Sri Astuti menyebutkan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Satu orang penderita bahkan dapat menularkan hingga belasan orang lainnya, terutama di lingkungan dengan interaksi tinggi seperti sekolah.

Adapun kasus suspek yang ditemukan memiliki rentang usia yang beragam, mulai dari balita hingga orang dewasa. Gejala utama yang perlu diwaspadai antara lain demam dan munculnya ruam kemerahan pada kulit.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa imunisasi campak memiliki peran penting dalam pencegahan. Berdasarkan temuan di lapangan, seluruh kasus suspek yang tercatat telah mendapatkan imunisasi, yang diduga menjadi salah satu faktor tidak ditemukannya kasus positif.

Pihak puskesmas mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap. Selain itu, masyarakat juga diminta tidak ragu untuk memeriksakan diri jika mengalami gejala yang mengarah pada campak. (Lintang Azra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....