Gayuh Banyumas, Strategi Jemput Bola Temukan Kasus Tuberkulosis di Masyarakat

  • 28 Mar 2026 18:34 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Upaya penanggulangan Tuberkulosis (TB) terus diperkuat melalui berbagai inovasi daerah. Di Kabupaten Banyumas, salah satu strategi yang dikembangkan adalah program Gayuh Banyumas, yakni pendekatan jemput bola untuk menemukan kasus TB secara aktif di tengah masyarakat.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Unsoed Purwokerto Sri Nurlaela, SKM, M.Epid, sekaligus narasumber dalam program Indonesia Sehat RRI Purwokerto, menjelaskan bahwa program ini berfokus pada peningkatan penemuan kasus sebagai langkah awal pengendalian TB. “Gayuh Banyumas merupakan singkatan dari golek uwong watuk, yaitu mencari masyarakat yang mengalami batuk tidak kunjung sembuh untuk kemudian diperiksa lebih lanjut,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa pendekatan ini berbeda dengan metode konvensional yang cenderung menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Melalui Gayuh Banyumas, petugas kesehatan bersama masyarakat didorong untuk aktif menemukan kasus di lingkungan sekitar.

Pelaksanaan program ini menyasar lokasi dengan risiko penularan tinggi, seperti pesantren, tempat kerja, dan lingkungan padat penduduk. Selain itu, skrining juga dilakukan melalui pemeriksaan rontgen dada guna menjaring kasus secara lebih luas, termasuk pada individu yang belum menunjukkan gejala berat.

Upaya penemuan kasus masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah stigma terhadap penderita TB yang membuat sebagian masyarakat enggan memeriksakan diri. Selain itu, keberadaan kasus TB laten yang belum bergejala juga menyulitkan proses deteksi dini.

Di Kabupaten Banyumas, capaian program penanggulangan Tuberkulosis tergolong baik dengan penemuan kasus sekitar 95 persen dan angka kesembuhan mencapai 91 persen. Namun, masih adanya kasus yang belum terdeteksi tetap menjadi potensi penularan di masyarakat.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Program Gayuh Banyumas yang mulai diperkenalkan sejak 2025 ini diharapkan mampu meningkatkan penemuan kasus melalui partisipasi aktif masyarakat, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan mendukung target eliminasi TB di Indonesia pada tahun 2030.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....