Banyumas Berkomitmen Turunkan Angka Kematian Ibu-Bayi dan Stunting

  • 11 Des 2025 21:47 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Pemerintah Kabupaten Banyumas mengadakan sarasehan penting pada Kamis (11/12/2025) di Ruang Joko Kahiman. Pertemuan ini berfokus pada strategi penanganan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), kasus stunting, serta upaya penguatan kelembagaan Posyandu.

Acara dipimpin langsung oleh Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan dr. Dani Esti Novia, dan Direktur RSUD Banyumas dr. Widyana Grehastuti. Berbagai unsur terkait turut hadir sebagai undangan.

Dalam pemaparannya, dr. Dani menekankan perlunya keterlibatan multi-sektor dalam mengawal isu kesehatan, khususnya pencegahan stunting. Strategi pencegahan ditekankan pada pengoptimalan kondisi kehamilan sejak awal untuk menekan risiko stunting sebelum anak lahir.

Meskipun Banyumas menunjukkan hasil positif dengan kasus baru stunting yang berada di bawah target nasional (di bawah 2,5 persen) dan meraih penghargaan kinerja terbaik dalam penanganan stunting di Jawa Tengah, dr. Dani mencatat bahwa Kecamatan Purwojati masih menjadi wilayah dengan kasus stunting tertinggi.

Baca juga: Juara Lomba Mendongeng Nasional Diarak Keliling Kota Purwokerto

“Banyumas bersama 11 kabupaten/kota lain di Jawa Tengah dinyatakan berkinerja terbaik dalam pencegahan dan penanganan stunting. Meski demikian, Kecamatan Purwojati masih mencatat insiden stunting tertinggi di wilayah Banyumas,” tuturnya.

Lebih lanjut, dr. Dani mengidentifikasi keluarga perokok sebagai faktor risiko terbesar stunting. Kebiasaan merokok di rumah tidak hanya mengalihkan anggaran belanja gizi keluarga, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan serius pada anak akibat paparan asap rokok pasif.

Dinyatakan pula bahwa cakupan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) per November 2025 masih di bawah rata-rata nasional. Kendala utama dalam peningkatan cakupan PMT meliputi keterbatasan anggaran, sasaran yang sulit dijangkau, dan perbedaan faktor pendukung (input) di lapangan.

Tantangan Penguatan Posyandu

Sementara itu, Posyandu kini telah memperluas layanan kesehatannya, mencakup seluruh siklus hidup, termasuk lansia. Namun, penguatan Posyandu menghadapi sejumlah tantangan, yaitu:

  • SDM dan Kaderisasi: 60 persen atau 10.213 kader belum mendapatkan pelatihan.

  • Waktu Pelayanan: Banyak kader berada pada usia produktif sehingga beberapa desa harus mengadakan Posyandu setelah Maghrib atau pada hari libur.

  • Sarana dan Prasarana: Ketersediaan alat antropometri masih perlu ditingkatkan.

  • Insentif Kader: Belum seluruh desa mengalokasikan insentif kader, padahal regulasi telah mengatur pemberian insentif sebagai dukungan bagi beban kerja kader.

Melihat beberapa poin di atas, dr. Dani Pemerintah Daerah dapat meningkatkan perhatian, terutama pada insentif kader, demi menjaga motivasi mereka dalam melayani masyarakat.

Sementara itu. Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono Bupati Sadewo menegaskan komitmen penuh Pemkab Banyumas dalam percepatan penurunan AKI, AKB, dan stunting. Data hingga November 2025 mencatat 13 kematian ibu dan 194 kematian bayi, dengan prevalensi stunting sekitar 14 persen.

“Upaya ini merupakan tugas kemanusiaan yang harus dilakukan secara bersama-sama oleh lintas sektor, profesi, dan komunitas. Tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan atau pemerintah daerah,” kata Bupati.

Sadewo juga menekankan pentingnya penguatan layanan primer melalui Posyandu sebagai pintu pertama pelayanan kesehatan keluarga. Selain itu, peran klinik untuk wanita usia subur dan pasangan usia subur dinilai sangat penting dalam membentuk generasi yang sehat sejak perencanaan kehamilan.

Baca juga: Banyumas Terima Dukungan Program Kesling Plus Unicef

Sadwo menyoroti pentingnya program Skrining Layak Hamil sebagai langkah pencegahan yang mampu mendeteksi risiko sebelum kehamilan terjadi, sehingga berdampak signifikan pada penurunan AKI dan AKB.

Dalam konteks stunting, intervensi kini tidak hanya menyasar murid sekolah, tetapi juga balita dan ibu hamil. Konsep Makan Bergizi Gratis yang merupakan inisiatif pemerintah pusat turut diperluas agar manfaatnya menjangkau lebih banyak kelompok rentan.

Sadewo mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi dan komitmen bersama.

“Harapannya, kita bisa bekerja lebih dekat, lebih kompak, dan lebih cepat untuk menghadirkan layanan kesehatan yang mudah dijangkau, berkualitas, dan membawa dampak nyata bagi masyarakat Banyumas,” ucapnya.

Rekomendasi Berita