Waspadai Mitos Seputar Panas Dalam, Ini Penjelasan Medisnya
- 30 Sep 2025 16:20 WIB
- Purwokerto
KBRN,Purwokerto : Istilah "panas dalam" sudah lama dikenal masyarakat sebagai keluhan umum, yang biasanya ditandai dengan gejala seperti sariawan, bibir pecah-pecah, dan nyeri tenggorokan. Meski begitu, istilah ini sejatinya tidak dikenal dalam dunia medis.
Menurut para ahli, panas dalam bukanlah nama penyakit, melainkan istilah awam yang menggambarkan kumpulan gejala yang membuat tidak nyaman. Sayangnya, sejumlah mitos seputar kondisi ini justru berkembang dan menyesatkan masyarakat.
Berikut ini beberapa mitos yang sering dikaitkan dengan panas dalam, lengkap dengan penjelasan medisnya seperti dikutip dari laman resmi Kementrian Kesehatan RI :
1. Cuaca Panas Menyebabkan Panas Dalam
Banyak orang mengira cuaca panas secara langsung menyebabkan panas dalam. Padahal, panas dalam biasanya berkaitan dengan kondisi seperti radang tenggorokan atau demam, bukan cuaca itu sendiri.
Suhu lingkungan memang bisa memengaruhi suhu tubuh, tetapi tidak serta merta menyebabkan gejala panas dalam. Yang lebih penting adalah menjaga asupan cairan agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik, terutama saat cuaca panas ekstrem.
2. Makanan Bersantan Picu Panas Dalam
Makanan bersantan juga sering disalahkan sebagai penyebab panas dalam. Namun, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim ini.
Meskipun demikian, konsumsi santan dalam jumlah besar sebaiknya tetap dibatasi karena kandungan lemak jenuhnya dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi, penyakit jantung, dan stroke. Jadi, bukan karena panas dalam, melainkan demi kesehatan jangka panjang.
3. Makanan Pedas Sebabkan Panas Dalam
Banyak yang percaya bahwa makanan pedas adalah penyebab utama panas dalam. Padahal, makanan pedas hanya memberikan sensasi panas di mulut dan tenggorokan, berkat kandungan zat capsaicin pada cabai.
Sensasi tersebut berbeda dengan gejala panas dalam yang berkaitan dengan peradangan atau infeksi. Meski begitu, konsumsi makanan pedas berlebihan tetap perlu dibatasi karena bisa mengiritasi saluran pencernaan dan memperparah kondisi lambung.
4. Makanan Panas Menyebabkan Panas Dalam
Mitos lainnya adalah makanan panas dianggap dapat memicu panas dalam. Faktanya, suhu makanan yang tinggi hanya memberikan sensasi panas di mulut dan tidak berhubungan langsung dengan gejala panas dalam.
Namun, mengonsumsi makanan yang terlalu panas memang berisiko melukai lidah atau mulut. Oleh karena itu, disarankan untuk menyantap makanan dengan suhu hangat atau suam-suam kuku.
Panas dalam bukanlah diagnosis medis, melainkan istilah awam untuk menggambarkan gejala tertentu yang sering kali bersumber dari kurangnya cairan, infeksi ringan, atau peradangan. Masyarakat perlu lebih bijak dalam menyikapi mitos-mitos seputar panas dalam dan tidak langsung percaya tanpa dasar ilmiah.
Jika gejala seperti sariawan, nyeri tenggorokan, atau bibir pecah-pecah berlangsung lama atau semakin parah, sebaiknya segera konsultasikan ke tenaga medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....