Unsoed Kembangkan Hilirisasi Susu-Biogas di Purbalingga

  • 07 Sep 2026 15:04 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purbalingga – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menerapkan inovasi teknologi berbasis Low External Input Sustainable Agriculture untuk membantu pengembangan usaha peternakan sapi perah di wilayah dataran rendah. Program bertajuk Feces to Fire (F2F) tersebut dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai DPPM Kemdiktisaintek.

Kegiatan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026 di Desa Kedungjati, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga. Program tersebut menyasar Kelompok Peternak Sapi Perah (KPSP) Manunggal Jaya yang dipimpin Mistar, dengan Joko sebagai sekretaris.

Tim Unsoed dipimpin Danang Nur Cahyo dari Fakultas Peternakan (Fapet), bersama Wilis Cahyani dari Fakultas Pertanian (Faperta) dan Naofal Dhia Arkan dari Fapet. Kegiatan juga melibatkan empat mahasiswa Fapet, yakni Fauzi Amar Ma’ruf, Noto Hananto, Nadia Keisha Ayu Shafira, dan Oktaviona Putri Ramadani.

Ketua Tim Pengabdian Unsoed, Danang Nur Cahyo, mengatakan peternakan sapi perah di dataran rendah masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Menurutnya, lokasi KPSP Manunggal Jaya yang dekat dengan sumber bahan baku pakan dan pasar menjadi salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan.

“Kelompok peternak sapi perah Manunggal Jaya yang berada di kawasan dataran rendah memiliki peluang besar yang harus dioptimalkan. Mereka dekat dengan sumber bahan baku pakan dan pasar,” ujar Danang dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, Senin (7/9/2026).

Melalui program F2F, tim Unsoed memberikan pendampingan yang mencakup pengelolaan limbah, pakan, kesehatan ternak, hingga pengolahan susu. Di sisi hulu, peternak diperkenalkan dengan digester biogas portabel untuk mengolah kotoran sapi menjadi sumber energi.

Peternak juga mendapat pelatihan penggunaan mesin chopper dan penyusunan formulasi pakan konsentrat yang seimbang. Untuk mendukung kesehatan dan kualitas produksi susu, diterapkan pula praktik pemerahan yang higienis, seperti teknik teat dipping.

Pendampingan kemudian dilanjutkan pada pengolahan susu. Anggota keluarga peternak dilibatkan untuk mengembangkan produk olahan dari susu segar menjadi susu pasteurisasi dan yogurt dengan berbagai varian rasa.

Dalam proses tersebut, peternak dikenalkan dengan pengendalian kualitas menggunakan termometer dan pH meter. Produk kemudian dikemas dalam botol agar lebih siap dipasarkan.

Salah satu peserta, Fauzi Amar Ma’ruf, yang merupakan putra Ketua KPSP Manunggal Jaya, mengaku mendapat pengetahuan baru dari pelatihan tersebut. Ia tertarik mengembangkan produk yogurt karena sebelumnya belum pernah mempraktikkan pengolahan susu dengan cara tersebut.

“Pengolahan susu menjadi yogurt merupakan praktik yang termasuk baru bagi saya. Saya sangat tertarik dan akan terus membuatnya. Selain dijual, juga untuk konsumsi pribadi,” kata Fauzi.

Program tersebut dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari Focus Group Discussion (FGD), transfer teknologi, praktik, hingga evaluasi. Pendampingan diarahkan untuk meningkatkan keterampilan peternak sekaligus membantu mereka memanfaatkan limbah dan mengembangkan produk olahan susu.

Melalui kegiatan ini, KPSP Manunggal Jaya tidak hanya mendapat pengetahuan mengenai pengelolaan limbah dan pakan, tetapi juga memiliki alternatif dalam mengembangkan produk susu olahan untuk memperluas pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....