Peneliti Gabungan, Teliti Pengobatan Tradisional di Pulau Sabu
- 04 Agt 2026 19:52 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Tim peneliti gabungan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Nusa Cendana (Undana) meneliti praktik pengobatan tradisional masyarakat Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Penelitian tersebut didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi Gelombang IX.
Penelitian berjudul "Pengobatan Berbasis Kearifan Lokal pada Masyarakat Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur" itu dipimpin Dr. Wiwik Novianti, S.Sos., M.I.Kom. dari Unsoed bersama peneliti dari BRIN, Unsoed, dan Undana.
Pada tahap pertama pengumpulan data yang berlangsung 21-31 Juli 2026, tim mengunjungi wilayah adat Liae, Mehara, Menia, Seba, dan Dimu. Peneliti melakukan wawancara dengan Mone Ama sebagai pemimpin adat, Mone Melare selaku praktisi pengobatan tradisional, tokoh masyarakat, serta sejumlah instansi terkait.
Dari hasil sementara, masyarakat Pulau Sabu masih memanfaatkan berbagai ramuan tradisional yang berasal dari tanaman dan bahan alam di lingkungan sekitar untuk mengobati berbagai penyakit. Pengetahuan mengenai jenis tanaman, cara pengolahan, dan penggunaannya diwariskan secara turun-temurun.
Selain menggunakan ramuan herbal, praktik penyembuhan juga dipengaruhi nilai budaya dan kepercayaan masyarakat. Bagi masyarakat adat Pulau Sabu, kesehatan dipahami sebagai keseimbangan hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan kehidupan spiritual.
Ketua Organisasi Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa Jingitiu, Rahul Adrianus Ratu, mengatakan dalam tradisi Jingitiu proses penyembuhan dapat memadukan penggunaan ramuan herbal dengan ritual adat sebagai bagian dari upaya memulihkan keseimbangan dan menjaga keharmonisan dengan leluhur serta lingkungan.
Ketua tim peneliti, Dr. Wiwik Novianti, mengatakan penelitian ini diharapkan menghasilkan dokumentasi ilmiah mengenai budaya pengobatan berbasis kearifan lokal masyarakat Pulau Sabu.
"Dokumentasi tersebut penting karena sebagian besar pengetahuan lokal masih diwariskan secara lisan dan berpotensi berkurang apabila tidak dicatat serta diteruskan kepada generasi berikutnya," kata Wiwik dalam keterangan tertulis yang diterima RRI Purwokerto, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, hasil penelitian diharapkan dapat mendukung pelestarian tradisi pengobatan lokal sekaligus menjadi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dalam menyusun kebijakan pelestarian budaya dan pengembangan layanan kesehatan yang menghargai kearifan lokal.
Penelitian ini juga diharapkan memperkaya kajian akademik mengenai komunikasi kesehatan, komunikasi antarbudaya, etnomedisin, tanaman obat, dan sistem kepercayaan lokal. Sekaligus menjadi upaya mendokumentasikan salah satu warisan budaya Indonesia, yang masih bertahan hingga kini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....