UNWIKU Perkuat Literasi Keuangan Bersama Kemenkeu dan OJK

  • 11 Jul 2026 06:18 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas – Universitas Wijayakusuma Purwokerto (UNWIKU), bersama Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto. Memperkuat upaya peningkatan literasi keuangan dan literasi fiskal di kalangan generasi muda, melalui kegiatan Edukasi Literasi Keuangan dan Sosialisasi Instrumen Pembiayaan APBN.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Poedjadi Djaringbandajoeda, Jumat (10/7/2026), diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan pimpinan universitas.

Kegiatan ini menghadirkan Analis Keuangan Negara Ahli Madya Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan RI, Chandra A.S. Wibowo, serta Analis Bagian Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan dan Edukasi Pelindungan Konsumen OJK Purwokerto, Gayeng Priamulindo.

Momentum tersebut juga ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UNWIKU dan DJPPR Kementerian Keuangan RI. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi di bidang edukasi literasi keuangan dan literasi fiskal, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai instrumen pembiayaan negara dan investasi yang aman.

Rektor UNWIKU, Dr. Heru Cahyo, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Keuangan RI, OJK Purwokerto, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan dalam mengelola keuangan.

"Literasi keuangan bukan lagi menjadi kebutuhan bagi kalangan tertentu, melainkan kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap warga negara. Kemampuan mengelola keuangan secara bijak, memahami risiko investasi, mengenali produk keuangan yang legal, serta menghindari berbagai bentuk penipuan finansial merupakan bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan," ujar Heru.

Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membentuk lulusan yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan bangsa melalui peningkatan literasi keuangan dan literasi fiskal. Menurutnya, kerja sama dengan DJPPR diharapkan dapat membuka lebih banyak program edukasi dan penguatan kapasitas mahasiswa pada masa mendatang.

Dalam sesi edukasi, Chandra A.S. Wibowo mengajak mahasiswa mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan secara sehat sejak dini. Ia mengingatkan berbagai tantangan finansial yang kini dihadapi generasi muda, mulai dari maraknya judi online, pinjaman online ilegal, investasi bodong, hingga perilaku konsumtif akibat fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

"Investasi bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga membangun masa depan finansial yang sehat. Karena itu, masyarakat harus memilih instrumen yang legal, logis, dan sesuai dengan tujuan keuangan masing-masing," kata Chandra.

Pada kesempatan itu, Chandra juga memperkenalkan Obligasi Negara Ritel (ORI) Seri ORI030T3 dan ORI030T6 sebagai salah satu instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah untuk mendukung pembiayaan APBN sekaligus menjadi pilihan investasi yang aman bagi masyarakat.

Ia menjelaskan, ORI030 menawarkan kupon tetap (fixed rate), dapat diperdagangkan di pasar sekunder (tradable), dijamin pemerintah, dan dapat dibeli mulai dari Rp1 juta. Masa penawaran berlangsung pada 6–30 Juli 2026, terdiri atas ORI030T3 dengan tenor tiga tahun dan kupon 6,90 persen serta ORI030T6 dengan tenor enam tahun dan kupon 7,00 persen per tahun. Selain memberikan imbal hasil bulanan, investasi pada ORI juga menjadi bentuk partisipasi masyarakat dalam mendukung pembiayaan pembangunan nasional melalui APBN.

Sementara itu, Analis OJK Purwokerto, Gayeng Priamulindo, menekankan pentingnya literasi keuangan di tengah pesatnya perkembangan layanan keuangan digital. Menurutnya, pemahaman yang baik terhadap produk jasa keuangan akan menjadi benteng utama agar masyarakat tidak mudah menjadi korban investasi ilegal maupun penipuan berkedok finansial.

"Semakin baik pemahaman seseorang terhadap produk jasa keuangan, semakin kecil risiko menjadi korban investasi ilegal maupun penipuan berkedok finansial," ujarnya.

Gayeng juga mengajak mahasiswa menjadi agen literasi keuangan di lingkungan masing-masing dengan membiasakan pengelolaan keuangan yang sehat, memahami hak sebagai konsumen jasa keuangan, serta selalu memastikan legalitas suatu produk sebelum berinvestasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....