Wayangan ‘Semar Mbangun Desa’ Puncaki Ruwat Bumi Kenteng

  • 22 Jun 2026 11:35 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara – Pagelaran wayang kulit lakon “Semar Mbangun Desa” yang dibawakan dalang muda Ki Jalu Pamungkas menjadi puncak pagelaran Ruwat Bumi menyambut tahun baru Muharram di Kelurahan Kenteng, Kecamatan Madukara, Minggu malam (21/6/2026), di Lapangan Kenteng.

Wayangan berlangsung meriah dihadiri ribuan warga dan menjadi penutup Ruwat Bumi Kenteng yang telah digelar sejak pagi. Acara diawali dengan sambutan Lurah Kenteng, doa dan tahlil bersama, penyerahan tokoh wayang, kemudian dilanjutkan pentas wayang kulit semalam suntuk.

Lakon “Semar Mbangun Desa” mengangkat sosok Semar sebagai simbol kebijaksanaan, kejujuran, dan pengabdian. Semar adalah pengayom yang selalu mengajarkan gotong royong, menjaga harmoni dan mengedepankan kepentingan masyarakat. Nilai-nilai yang relevan dengan kondisi bangsa saat ini.

Penampilan KI Jalu semakin memukau didukung karawitan “Rudra Swara” yang menampilkan komposisi gending pengiring yang energik dan dinamis, memadukan unsur tradisional dan instrumen modern. Apalagi dimeriahkan enam sinden muda yang tengah naik daun serta bintang tamu Gareng Widi dari Wonosobo yang mampu mengocok perut penonton.

Lurah Kenteng, Tujono Ahmad, SIP, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi dalam pembangunan maupun kegiatan Ruwat Bumi.“Ruwat Bumi ini untuk menyambut tahun baru Islam, juga sebagai ungkapan syukur kepada atas limpahan rezeki, hasil bumi, kesehatan, dan keselamatan. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan serta melestarikan budaya,” ujarnya.

Tujono menambahkan, pembangunan di wilayah Kelurahan Kenteng terus menunjukkan kemajuan dengan hadirnya sejumlah institusi strategis, seperti Labkesda, Sekolah Rakyat, serta Politeknik Banjarnegara yang sedang dalam proses penyatuan dengan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).

Selain itu, Koperasi Merah Putih yang telah terbentuk terus berkembang dan siap untuk melakukan kegiatan usaha dan pelayanan kepada warga.

Sebelumnya, rangkaian Ruwat Bumi Kenteng 2026 diawali dengan pawai gunungan dan berbagai pertunjukan seni yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Antusiasme warga terlihat sejak pagi hingga malam hari. Ketua Panitia Ruwat Bumi, Mualim, menjelaskan bahwa kata “ruwat” memiliki makna dilepaskan atau dibebaskan dari berbagai kesulitan, kesempitan, dan ujian kehidupan.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat Kenteng senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan,” katanya.

Mualim menambahkan, nilai terpenting dari Ruwat Bumi adalah meningkatnya semangat kebersamaan, gotong royong, dan kerukunan warga. Keterlibatan generasi muda juga menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman.*** (mujiprast).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....