Kekuatan Generalis: Belajar dari Buku Range untuk Pengembangan Diri ASN
- 20 Agt 2026 14:12 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID Purwokerto – Di dunia yang serba tidak pasti, memiliki latar belakang yang beragam justru menjadi keunggulan kompetitif yang krusial. Sebagaimana yang disampaikan dalam program ASN Membaca Seri 6 yang bertemakan "RANGE: Mengapa Generalis Bisa Lebih Unggul daripada Spesialis?", bersama narasumber Izma Fardiana Affanti, S.E., M.I.P. selaku Widyaiswara Ahli Madya BPSDM Jawa Timur, di kanal YouTube @BPSDMJATIMTV, pada Selasa (18/8/2026).
Dalam buku Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World karya David Epstein menantang asumsi populer bahwa spesialisasi dini adalah kunci kesuksesan. Salah satu perbandingan utama yang diangkat adalah kisah atlet Tiger Woods dan Roger Federer. Jika Tiger Woods mewakili spesialisasi ekstrem yang dididik sejak usia sangat dini, Roger Federer justru menempuh jalur generalis dengan mencoba berbagai jenis olahraga sebelum akhirnya fokus pada tenis.
Pendekatan Federer terbukti membangun koordinasi, ketahanan mental, dan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Konsep penting lainnya adalah perbedaan antara kind learning environment dan wicked learning environment. Dalam dunia yang wicked atau kompleks dan tidak terprediksi, metode belajar yang kaku tidak lagi relevan. Kita membutuhkan fleksibilitas berpikir untuk menavigasi masalah yang tidak memiliki pola tetap atau umpan balik langsung.
Dunia saat ini cenderung bersifat wicked learning environment, di mana masalah yang muncul bersifat acak dan sulit diprediksi. Beliau menekankan pentingnya menjadi individu yang fleksibel. "Orang-orang unggul itu yang bisa menangkap apa ya persaingan, tetapi mereka yang berani mencoba hal baru, meluaskan wilayah minatnya dan juga mendobrak dirinya itu masih bisa lebih unggul karena dia lebih fleksibel, dia lebih adaptif dengan perubahan." ujarnya.
Buku ini juga memperkenalkan istilah desirable difficulties atau kesulitan yang diinginkan dalam proses belajar. Alih-alih mencari jalan pintas yang mudah, proses pembelajaran yang menantang dan acak justru lebih efektif dalam menciptakan pemahaman jangka panjang dan retensi memori yang lebih dalam dibandingkan sekadar menghafal rumus.
Dalam sistem pendidikan, terdapat kontras antara spesialisasi dini di UK dan spesialisasi lambat (late specialization) di Skotlandia. Skotlandia memberikan ruang bagi siswa untuk bereksplorasi melalui sampling period, yang dalam jangka panjang membentuk individu yang lebih tangguh dan tidak mudah mengalami burnout akibat kejenuhan pada satu bidang.
Bagi ASN, pesan utama dari buku ini adalah pentingnya memiliki range atau rentang kemampuan yang luas. ASN tidak hanya berperan sebagai operator, tetapi juga sebagai integrator yang mampu menghubungkan berbagai perspektif untuk menyelesaikan persoalan masyarakat yang semakin kompleks dan beragam.
Semangat untuk "menjadi amatir" juga menjadi poin penting. Menjadi amatir dalam konteks ini bukan berarti tidak kompeten, melainkan memiliki rasa ingin tahu yang besar, berani bertanya, dan bersedia mencoba hal baru tanpa terbebani oleh ekspektasi kaku sebagai seorang ahli yang seharusnya tahu segalanya. Selain itu, terkait proses pengembangan diri, konsep desirable difficulties atau kesulitan yang diinginkan dalam belajar.
"Belajar itu memang sulit. Belajar tidak bisa semudah seperti kita dimudahkan dengan sistematik tertentu." lanjutnya.
Hal ini menegaskan bahwa untuk menjadi ASN yang adaptif dan solutif, kita perlu berani keluar dari zona nyaman, memperluas cakrawala pengetahuan (range). Dengan berani keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru, kita dapat terus memperkaya diri, melakukan connecting the dots, dan memberikan kontribusi yang lebih bermakna sebagai pelayan publik. (Fattah Zakaria)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....